oleh

Soal Permasalahan PMI di Inggris, Koalisi SPSK: Menaker Jangan Lepas Tangan

Rakyatsumut.com, Koalisi SPSK meminta Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) untuk tidak mengabaikan tanggung jawab atau lepas tangan terkait persoalan penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) di Inggris.

Koordinator Koalisi SPSK, Fuad Adnan mengatakan Kemnaker seharusnya menyelesaikan permasalahan PMI di Inggris yang sempat mencoreng nama Indonesia di pemberitaan media internasional.

“Menaker dan Kemnaker Jangan lepas tangan, dong. Permasalahan PMI di Inggris itu harusnya juga jadi bagian dari tanggung jawabnya. Sebab padw Juli lalu, Kemnaker secara resmi ikut melepas pemberangkatan PMI tersebut ke Inggris,” kata dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (21/9/2022) kemarin.

Menurut Fuad, dengan adanya temuan biaya _overcharging_ (biaya yang terlampau tinggi di luar batas kewajaran) yang dibebankan oleh agensi penempatan, Kemnaker seharusnya tidak ragu mencabut atau menghentikan izin operasional Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) yang melakukan praktek _overcharging_ tersebut.

Sebab, lanjut Fuad, hanya dengan tindakan tersebut, muncul efek jera bagi P3MI yang akan atau sudah melakukan hal yang serupa.

“Terkait permasalahan penempatan di Inggris ini, apa yang sudah dilakukan Menaker Ida Fauziyah hingga saat ini? Sudah jelas ada _overcharging_, kok P3MI-nya tidak diberhentikan atau dicabut izin operasionalnya. Kemnaker tidak boleh berdiam diri. Tidak cukup hanya memberikan klarifikasi tetapi sebaiknya proaktif mengantisipasi agar tidak ada lagi _overcharging_,” sambung dia.

Fuad menambahkan Kemnaker seharusnya juga bertindak aktif memperbaharui perjanjian kerjasama dengan pemerintah Inggris. Pasalnya, bila tidak ada kerjasama, maka hal tersebut pasti akan menyebabkan masalah bagi penempatan PMI di kemudian hari.

“Dalam konteks ini, Kemnaker pun belum melakukan tindakan apa-apa. Padahal salah satu problem pokok penempatan PMI di Inggris adalah perjanjian kerjasama penempatan PMI dengan mereka,” tutur dia.

Sebagai informasi, pada dua pekan lalu, media Inggris Guardian kembali memberitakan persoalan jerat utang _(debt bondage)_ dan biaya _overcharging_ yang menimpa sejumlah PMI yang bekerja di sektor perkebunan di Inggris. Menurut temuan Guardian, para PMI tersebut mengalami jerat utang tinggi karena biaya _overcharging_ yang dibebankan PT Al Zubara kepada mereka.

Editor: Rommi Pasaribu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed