oleh

Samudera Association: Perempuan Punya Peran Penting Menjaga Hutan Batangtoru

Rakyatsumut.com, Kawasan Hutan Batang Toru memiliki luas kurang lebih 133.841 hektare. Hutan ini membentang di tiga kabupaten, yakni Tapanuli Utara seluas kurang lebih 90.385 hektare atau 67,3 persen, Tapanuli Selatan seluas kurang lebih 29.507 hektare atau 22 persen dan Tapanuli Tengah seluas kurang lebih 13.949 hektare atau 10,5 persen.

Hutan Batang Toru yang bagi masyarakat lokal dikenal dengan Harangan Tapanuli tersebut merupakan kawasan hutan tropis dengan lansekap yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Ekosistem ini menyimpan kekayaan flora dan fauna yang menjadi spesies kunci, di antaranya Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis), Orangutan (Pongo Abeli, Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae), Kambing Hutan Sumatera (Naemorhedus Sumatraensis), Tapir (Tapirus Indicus), Landak (Hystrix Brachyura), Beruk (Macaca Nemestrina), Beruang Madu (Helarctos Malayanus), Kucing Emas (Pardofelis Marmomata), Rangkong dan sejumlah tumbuhan langka lainnya seperti bunga Raflesia Gadutnensis.

Tidak itu saja, dari catatan para peneliti, Hutan Batang Toru merupakan rumah jelajah bagi setidaknya 67 jenis mamalia, dimana 10 diantaranya masuk dalam daftar merah IUCN dan 11 spesies masuk ke dalam kategori CITES, serta 287 jenis burung, 110 jenis Herpetofauna, 428 flora yang termasuk dalam112 famili.

Air Terjun Sipitu-pitu yang terletak di kawasan hutan Desa Sait Kalangan II, Kecamatan Tukka. Foto: Istimewa
Air Terjun Sipitu-pitu yang terletak di kawasan hutan Desa Sait Kalangan II, Kecamatan Tukka. Foto: Istimewa

Yan Brahman Silaban dari Samudera Association mengungkapkan, saat ini, hutan tersebut terus mengalami tekanan berat, baik akibat dari laju pertumbuhan penduduk maupun konversi lahan yang menyebabkan luas tutupan hutan dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan.

“Kelestarian hutan terusik dengan beragam aktifitas. Industri, pertambangan, ekspansi perkebunan, pembalakan liar, IUPHHK, minimnya lahan datar untuk pertanian dan kemiskinan, menjadi faktor dominan keterancaman hutan Batang Toru,” ungkap Yan Silaban dalam siaran pers kepada wartawan di Pandan, Tapanuli Tengah, Selasa (29/3/2022).

Sejumlah industri besar yang sampai saat ini masih terus bergerak, kata Yan, misalnya  aktifasi IUPHHK PT Teluk Nauli yang bergerak di industry kayu dan pertambangan emas yang dikelola PT Agincourt Resources.

Selain kedua industri ekstraktif tersebut, terdapat beberapa industri lainnya yang turut berkontribusi terhadap pembukaan lahan, yakni PLTA Batang Toru yang dikelola PT NSHE (North Sumatra Hydro Energy) di Tapanuli Selatan, Geothermal  PT SOL (Sarulla Operation Limited) di Tapanuli Selatan, PLTA Sipan Sihaporas I dan II di Tapanuli Tengah serta PLTA Simarboru di Tapanuli Selatan.

“Faktor penyebab tekanan lainnya yakni ekspannsi perkebunan juga terus terjadi, baik perkebunan sawit maupun perkebunan karet. Perkebunan Sawit misalnya HGU PTPN III Wilayah Batangtoru di Tapanuli Selatan dan pembukaan perkebunan karet yang mencapai puluhan hektar baik di Tapanuli Selatan maupun di Tapanuli Tengah. Tentu, pembukaan perkebunan ini menjadi bagian dari perambahan hutan,” kata Yan.

an Brahman Silaban dari Samudera Association saat memfasilitasi pertemuan Kelompok Sehati di Desa Aek Bontar, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah. Foto: Dokumen Samudera
Yan Brahman Silaban dari Samudera Association saat memfasilitasi pertemuan Kelompok Sehati di Desa Aek Bontar, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah. Foto: Dokumen Samudera

Faktor penyebab munculnya tekanan terhadap hutan Batangtoru yang tidak kalah penting, sambung Yan, yakni terbukanya pemukiman warga pendatang. Menurut dia, para pendatang tersebut berasal dari kepulauan Nias yang eksodus pasca gempa dan tsunami tahun 2004 lalu dan mendorong pembukaan lahan yang terus menerus akibat pertambahan populasi.

Yan mengatakan, tekanan terhadap Hutan Batang Toru yang terus berlangsung tentu membawa ekosistem ini dalam keterancaman, baik di sisi keanekaragaman hayati maupun bagi jutaan masyarakat di banyak desa di sekitar hutan yang mengandalkan hutan, misalnya sebagai sumber air bersih atau sebagai sumber kehidupan.

Karena itu, beragam tekanan tersebut tentu harus dijawab dengan mendorong upaya pelestarian seperti yang sedang dilakukan oleh ELSAKA, Samudera serta RDR yang telah membidani lahirnya kelompok-kelompok perempuan di tiga desa di Kabupaten Tapanuli Tengah, yakni di Desa Masundung Kecamatan Lumut dengan nama Perempuan Lokal, di Desa Aek Bontar Kecamatan Tukka dengan nama Kelompok Sehati dan Desa Sait Kalangan II dii Kecamatan Tukka dengan nama kelompok Mawar Berduri.

“Kelompok-kelompok itu sudah dibentuk sejak tahun lalu dan terus didampingi agar terus bergerak baik menguatkan internal kelompok dan melakukan berbagai upaya dalam menjaga dan melestarikan hutan,” kata Yan.

Yan Brahman Silaban, pengurus Samudera Association. Foto: Dokumentasi Pribadi
Yan Brahman Silaban, pengurus Samudera Association. Foto: Dokumentasi Pribadi

Menurut Yan, kelompok-kelompok yang dibentuk dan didampingi tersebut diisi para perempuan yang menyadari pentingnya keberadaan hutan bagi keberlangsungan hidup mereka. Karena itu, kelompok telah berkomitmen untuk terlibat dalam mencegah pengrusakan hutan sekaligus siap untuk memberdayakan dirinya dalam menjalankan beragam program yang muaranya sebagai upaya pelestarian hutan.

“Tawarannya bisa saja perhutanan sosial dengan beragam program, misalnya agro forestry, peternakan atau program lainnya yang cocok bagi masing-masing kelompok yang tentunya tidak terlepas dari mainset keselarasan dengan alam,” ungkap Yan.

“Bagi kami, Elsaka dan Samudera, ini akan menjadi upaya restoratif di tiga desa tersebut, dan jika ini berhasil maka akan menjadi pilot project bagi desa-desa lainnya di sekitara hutan Batang Toru. Tentu, program-program pendampingan ini membutuhkan dukungan dari semua pihak,” tutup Yan.

Editor: Rommi Pasaribu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed