oleh

Kelompok Perempuan dan Visi Menjaga Hutan Batangtoru

Rakyatsumut.com, Rinai turun tak terlalu lama saat menjelang sore di Desa Masundung, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Selasa (22/2/2022) siang. Desa yang terletak di tepian Hutan Lindung Batangtoru.

Hutan primer seluas 1.200 hektare yang tersohor dengan keragaman hayati yang tinggi. Hutan ‘kaya’ dan disebut-sebut sebagai salah satu paru-paru dunia dan karenanya membutuhkan perlindungan dan pelestarian.

Sudut Hutan Batangtoru di Desa Masundung, Kecamatan Lumut, Tapanuli Tengah. Foto: Damai Mendrofa
Sudut Hutan Batangtoru di Desa Masundung, Kecamatan Lumut, Tapanuli Tengah. Foto: Damai Mendrofa

Ketika rinai berhenti, cahaya Matahari melesat tipis di antara jendela di satu ruang kelas SD Negeri Masundung, Kecamatan Pinangsori. Cahaya itu mengisyaratkan harapan-harapan. Saat bersamaan, berkumpul ibu-ibu dalam satu kelompok bernama Perempuan Lokal, komunitas yang pembentukannya diinisiasi oleh SAMUDRA (Suara Masyarakat untuk Demokrasi dan Nurani) dan ELSAKA (Lembaga Studi dan Advokasi Kebijakan), lembaga masyarakat berbasis studi, advokasi dan pendampingan masyarakat.

“Kami berharap ya, agar kondisi ini (keberadaan Hutan Batangtoru) bertahan, (pohon) jangan ditebang, ya biar bencana tidak terjadi,” ucap Kristina Panggabean, ketua Perempuan Lokal kepada Rakyatsumut.com saat pertemuan berlangsung.

Yan Silaban, pendamping dari Samudra saat berdiskusi dengan anggota kelompok Perempuan Lokal di satu ruang kelas SD di Desa Masundung, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapteng. Foto: Damai Mendrofa
Yan Silaban, pendamping dari Samudra saat berdiskusi dengan anggota kelompok Perempuan Lokal di satu ruang kelas SD di Desa Masundung, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapteng. Foto: Damai Mendrofa

Menurut Kristina, pihaknya siap berkomitmen untuk ikut terlibat dalam upaya menjaga dan melestarikan hutan dan berbagai upaya pencegahan deforestasi hutan yang disebabkan beragam aktifitas illegal maupun ekspansi dalam bentuk alih fungsi hutan.

“Walau, ya kami tentu membutuhkan penguatan dan dukungan, baik moril maupun dukungan langsung,” katanya.

Hal lain, sambung dia, dimana kaum perempuan ikut menciptakan aktifitas baru untuk ikut berkontribusi menopang ekonomi keluarga. Misalnya dengan bercocok tanam atau aktifitas lain yang dapat dijadikan sebagai ajang kampanye perlindungan alam dan lingkungan.

Menurut dia, terciptanya aktifitas kaum ibu dan perempuan di desa dan dimana aktifitas tersebut mampu bersumbangsih terhadap ekonomi keluarga dan masyarakat, maka secara tidak langsung dapat menjadi metode kampanye untuk menumbuhkan kesadartahuan.

“Kami bisa memberikan bukti pada level masyarakat, bahwa gak perlu merusak hutan misalnya nebang pohon kita bisa menghidupi keluarga. Nah, kadang kan ada keluarga, atau tetangga yang aktifitasnya nebang kayu, kadang kan kalau kita tegur, gimana gitu (berpotensi menimbulkan konflik-red), jadi cara menyadarkannya ya itu tadi, menciptakan aktifitas yang bisa menumbuhkan perekonomian. Misalnya, ya bercocok tanam yang hasilnya dapat menciptakan uang,” urai perempuan yang murah senyum itu.

Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis), spesies endemic Hutan Batangtoru yang menjadi satu kekayaan keberagaman hayati yang harus dijaga. Foto: Prayugo Utomo
Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis), spesies endemic Hutan Batangtoru yang menjadi satu kekayaan keberagaman hayati yang harus dijaga. Foto: Prayugo Utomo

Terkait tanggungjawab menjaga hutan secara langsung, Bendahara Perempuan Lokal, Erni Hasian br Sipahutar mengaku kelompok yang mereka gawangi tentu siap melakukan tugas-tugas tersebut, namun tentu dengan dukungan yang memadai.

Diungkapkan, dia dan beberapa anggota kelompok dari beberapa desa dampingan lain juga pernah mendapatkan pelatihan penggunaan GPS (Global Positioning System) untuk mendukung kemampuan dalam memberi informasi terkait lokasi, saat menemukan adanya aktifitas illegal di dalam hutan.

“Sayangnya itu, dukungan signal kami yang susah. Kami tentu siap untuk terus belajar dan terus dilatih. Dan itu tadi, dukungan terhadap kami itu penting, karena kalau perempuan ikut berpatroli, masuk ke dalam hutan kan tentu sesuatu yang membutuhkan pengorbanan besar,” kata Kristina.

Jangan Sampai Hutan Digunduli

Selain kelompok di Desa Masundung, kelompok lain yang secara perlahan terus bergerak untuk ikut menjaga hutan juga dibentuk di Desa Aek Bottar, Kecamatan Tukka. Diberi nama Kelompok Sehati, beranggotakan kaum ibu dan perempuan yang mayoritas bekerja sebagai petani.

Suasana pertemuan anggota kelompok Sehati, kelompok perempuan yang didampingi Samudra dan ELSAKA di Desa Aek Bottar, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapteng. Foto: Damai Mendrofa
Suasana pertemuan anggota kelompok Sehati, kelompok perempuan yang didampingi Samudra dan ELSAKA di Desa Aek Bottar, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapteng. Foto: Damai Mendrofa

Nikmat Yanti Gea dipercaya menjadi ketua kelompok. Pertemuan teranyar berlangsung Rabu (23/2/3022). Digelar di kantor Desa Aek Bottar dan dihadiri sebanyak 16 orang anggota kelompok. Raut-raut wajah penuh harapan juga terpancar. Kaum perempuan di desa ini yang telah didampingi selama 7 bulan oleh Samudra dan ELSAKA tersebut, juga mengaku siap terlibat dalam upaya pelestarian hutan.

“Kalau ditanya apa penting hutan, ya penting. Kami berharap yang terbaik kedepan, kekmanalah ya kan, pokoknya jangan sampai hutan digunduli, hutan terjaga,” kata Nikmat saat pertemuan itu.

Dia menuturkan, jika terjadi kerusakan hutan maka akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Misalnya saja soal ketersediaan air dan potensi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

“Kalau dulu, air di sini lancar, walaupun kemarau, tapi sekarang terasa kali perubahannya, memang belum pernah kering, tapi tinggi air memang jauh berbeda. Terus, kalau hujan turun, dulu air itu mengalir ya biasa saja, karena kan banyak pohon yang menahan, kalau sekarang, ya kalau hujan, ya waspada karena air langsung deras, takutnya ya banjirlah, longsorlah,” kata Nikmat.

Ia pun berharap kedepan, peran dirinya dan anggota kelompok Sehati dapat lebih besar. Tidak saja soal ikut mencegah pengrusakan hutan secara langsung, tapi juga dalam hal yang lain dimana kaum perempuan dapat berperan.

“Kami perempuan yang juga punya tugas di rumah, ya harapan kami bisa dilatih bercocok tanam, berharap membuka pertanian untuk menguatkan kelompok, atau juga ada aktifitas lain yang membuat kami secara tidak langsung ikut berkontribusi menjaga hutan, misalnya pengolahan limbah plastik atau kerajinan lain,” kata Nikmat.

Dukungan Desa

 Kepala Desa Aek Bottar, Suwardy Budialan Meha, mengaku mendukung berdirinya kelompok perempuan tersebut dan berharap dapat terus berkembang. Tidak saja agar berperan melindungi hutan, tapi ikut membangun desa.

Kepala Desa Aek Bottar, Suwardy Budialan Meha. Foto: Damai Mendrofa
Kepala Desa Aek Bottar, Suwardy Budialan Meha. Foto: Damai Mendrofa

“Harapan, bagaimana supaya yang dijabarkan ini bisa terealisasi, mengembangkan perekonomian di desa kita ini,” kata Budialan.

Menurut Budialan, harapan hutan semakin terjaga tentu merupakan harapan bersama, terutama pemerintah desa. Meski, ia mengaku dibutuhkan strategi yang mengena dan menyentuh kesadaran semua pihak.

“Ya tentu kita ingin bagaimana hutan di desa kita ini bisa terjaga dan alami, karenanya kami berharap ada sinergitas bersama antara kelompok, lembaga seperti bapak-bapak (Samudra-red) dan kami dari pemerintah desa,” kata Suwardy.

Tantangan Kelompok

Di hari berbeda, Kamis (24/2/2022) kelompok menyebut diri Mawar Berduri yang dibentuk di Desa Sait Kalangan II, Kecamatan Tukka juga menggelar pertemuan. Tepatnya di Balai Desa. Ketua Kelompok Permasi Simamora dan belasan anggota kelompok hadir.

Suasana pertemuan anggota Kelompok Mawar Berduri dengan pendamping dari Samudra, Yan Silaban, di Balai Desa Sait Kalangan II. Foto: Damai Mendrofa
Suasana pertemuan anggota Kelompok Mawar Berduri dengan pendamping dari Samudra, Yan Silaban, di Balai Desa Sait Kalangan II. Foto: Damai Mendrofa

Tak berbeda dengan kelompok di Desa Masundung dan Aek Bottar, kaum ibu dan perempuan di desa ini juga mengaku siap berperan menjaga dan melindungi hutan. Walau diakui, tantangan berhadapan dengan para penebang kayu, bukanlah perkara mudah.

“Menegur penebang pohon? pernah secara pribadi, tapi ya sebatas itu. Kalau dengan keras dan tegas, kita tentu butuh dukungan dan kepastian perlindungan serta pelatihan untuk menguatkan kami berargumen dengan para penebang kayu,” kata Permasi.

Menurut dia, perubahan memang kian terasa dan diduga disebabkan perubahan hutan, salah satunya semakin berkurangnya jumlah pohon. Beberapa hal yang semakin sering terjadi, misalnya debit air yang menjadi sumber pasokan air bersih warga yang semakin kecil. Berlanjut suhu di desa yang kini semakin terasa panas.

“Kalau dulu, siangpun di sini sejuk kali, kalau sekarang semakin terasa panasnya. Perubahan lain, ya kita bisa lihat hewan yang semakin sering turun ke kebun kita, misalnya monyet. Kenapa? ya karena sumber makanannya bisa jadi udah gak ada lagi di hutan, makanya turun dia ke kebun kita,” katanya.

Tangkapan udara Air Terjun Sipitu-pitu di Desa Sait Kalangan II. Foto: Damai Mendrofa
Tangkapan udara Air Terjun Sipitu-pitu di Desa Sait Kalangan II. Foto: Damai Mendrofa

Anggota kelompok Mawar Berduri Tiurmida Simatupang menambahkan, pihaknya berharap dukungan banyak pihak terhadap kelompok yang mereka dirikan. Menurut Tiurmida, dukungan tersebut dapat berupa pelatihan dan dukungan lain yang menjadikan kelompok semakin berkembang.

“Ya kami bisa menjadi teladan bagi ibu ibu dan perempuan lain. Misalnya kegiatan yang membuat kelompok dan desa kami ini makmur, misalnya bisa menanam tanaman muda, bisa menghasilkan dan membantu keluarga, tentu kami siap menguatkan kelompok ini untuk berkontribusi mengurangi upaya pengrusakan hutan,” katanya.

Peran Penting Perempuan Menjaga Hutan Batangtoru

Yan Silaban, pendamping kelompok dari yayasan Samudra menuturkan, pembentukan kelompok-kelompok tersebut sesuatu yang harus dilakukan untuk memperbanyak keterlibatan masyarakat di lingkar Hutan Batangtoru.

Yan Silaban, pendamping dari Samudra saat berdiskusi dengan anggota kelompok Perempuan Lokal di satu ruang kelas SD di Desa Masundung, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapteng. Foto: Damai Mendrofa
Yan Silaban, pendamping dari Samudra saat berdiskusi dengan anggota kelompok Perempuan Lokal di satu ruang kelas SD di Desa Masundung, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapteng. Foto: Damai Mendrofa

“Kelompok ini dibentuk untuk mendorong keterlibatan dan peran kaum ibu dan perempuan dalam upaya menjaga, melindungi dan melestarikan hutan Batangtoru,” kata Yan kepada Rakyatsumut.com.

Menurut Yan, peran kaum ibu dan perempuan dalam agenda menjaga dan melestarikan hutan sangat penting. Perempuan merupakan potensi kekuatan besar dan dapat dijadikan ‘benteng’ mencegah ancaman kerusakan Hutan Batangtoru.

“Tentu, kelompok perempuan saja tidak akan cukup. Karenanya butuh gotong royong dan sinergitas semua pihak, karena jika tidak kita lakukan maka eksistensi Hutan Batangtoru kedepan akan jadi tinggal dongeng dan cerita menjelang tidur,” tukas Yan.

Editor: Rommi Pasaribu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed