oleh

Antara Flu Burung dan Covid-19, ini Kata LBH Kesehatan

Rakyatsumut.com, GASPOLL TV menyelenggarakan Forum Diskusi bertajuk “Membandingkan Strategi Penanganan Flu Burung dan Covid-19” secara virtual di Jakarta, Jumat (27/8/2021) malam.

Sejumlah narasumber dihadirkan dalam diskusi itu. Di antaranya Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan, Iskandar Sitorus.

Dalam paparannya, Iskandar mengatakan antara Flu Burung dan Covid-19 secara penanganan cenderung berbanding terbalik.

Menurut dia, Flu Burung di tahun 2004 menjelang 2005 meledak hanya di beberapa Negara dan isu tersebut tidak sekencang saat ini.

“Varian itu tidak menjadi perhatian karena memang menjadi rada unik pada saat itu 2004 ke 2005, sebab pada saat itu belum ada siklus ke-100 tahunan,” ujar Iskandar.

Dia menuturkan, kala itu pihaknya menyarankan instansi Kesehatan, terutama di Tanah Karo, Sumatera Utara menyediakan anggaran untuk perbaikan sarana kesehatan. Menyusul.

“Hal tersebut dijadikan bangunan tambahan ditengah-tengah Rumah Sakit Umum Daerah Tanah Karo,” ungkap pria asli Sumatera Utara itu.

Berbeda dengan dengan penanganan virus Covid-19 saat ini. Iskandar mengungkapkan penanganan terhadap pandemi cenderung menghambur-hamburkan uang.

“Kalau sekarang ini kita perhatikan justru terbalik, siklusnya nyaris benar, uang yang dihambur-hamburkan itu tersentral tetap ke Amerika. Bagaimanapun pembelian vaksin itu luar biasa, prediksi kami bisa mencapai puluhan triliun,” katanya.

Menurut dia, saat ini muncul ketidaksinkronan pada penanganan Covid-19. Antara wabah, rasa takut, dan menggunakan vaksin.

“Seumur-umur saya divaksin oleh orang tua saya hanya 1 kali, namun di era 100 tahunan ini bisa 3 kali vaksin, disebut dengan istilah booster. Ini semua membuat ambruk pemahaman tentang siklus virus,” katanya.

Sedangkan narasumber dari Pusat Kajian Keuangan Negara, Megel Jekson dalam paparannya menyebut, saat Flu Burung mewabah, ada 3 strategi untuk mengatasi virus tersebut sehingga dianggap berhasil.

Pertama, mengumpulkan semua ilmuan dan meminta semua bicara tentang situasi pandemik yang dihadapi. Sehingga semua orang tidak panik dan semua dapat dilakukan dengan baik.

Yang kedua, memusnahkan unggas, karena memang itu satu-satunya cara untuk membuat Flu Burung tidak menular.

“Yang ketiga membangun komunikasi yang efektif,” beber Megel.

Sementara untuk pandemi Covid-19, Megel menilai yang terjadi, hanyalah kenaikan anggaran yang signifikan. Tahun 2020 sebesar Rp699,0 Triliun dan meningkat di tahun 2021 menjadi Rp744,75 Triliun. Sayangnya, anggaran besar itu belum memberi dampak signifikan.

Megel menjelaskan, anggaran tersebut digunakan untuk kenaikan klaim pasien Covid-19, penambahan rumah sakit darurat dan percepatan vaksinasi agar Herd Immunity terbentuk.

Padahal, di kasus Flu Burung, sambung Megel dibangun semacam laboratorium kesehatan yang dipakai untuk meneliti lebih jauh tentang virus tersebut dan menemukan zat-zat yang kemudian dapat meminimalisir penularan virus Flu Burung.

Penanganan tersebut, agaknya tidak ditemukan di masa pandemi Covid-19. Menurut dia, sebagai bangsa yang mempunyai penduduk hampir 280 juta jiwa, Indonesia belum mengeluarkan vaksin buatan sendiri.

“Dalam rincian kesehatan anggaran Covid-19 ini tidak terdapat anggaran untuk membuat instalasi kesehatan, membuat vaksin, dan penelitian lebih jauh tentang virus Covid-19,” beber Megel.

Editor: Rommy Pasaribu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed