oleh

DPC GmnI Gunungsitoli-Nias: Kegiatan Pariwisata Bukan Arena Pencitraan

Rakyatsumut.com, Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC) Gunung Sitoli-Nias mengkritik pengelolaan pariwisata di Kabupaten Nias Barat.

“Kegiatan pariwisata Nias Barat bukanlah arena pencitraan,” kata Wakil Ketua Bidang Agitasi dan Propaganda DPC GmnI Gunungsitoli-Nias, Yufita Gulo dalam keterangan resmi Rabu (21/4/2021).

Kritik itu dialamatkan Yufita untuk salah satu Kegiatan yang telah direalisasikan Dinas pariwisata kabupaten Nias Barat, dan menurutnya akhir-akhir ini menuai polemik dan kritikan baik masyarakat setempat maupun dari luar.

Realisasi pariwisata yang sedang dirancang oleh pemerintah setempat dinilai tidak layak menjadi tempat kunjungan wisatawan, yakni Air Terjun yang berada di daerah Lawu-lawu, Sisobambowo, Kecamatan Mandrehe Barat, Kabupaten Nias Barat, Provinsi Sumatera Utara.

Destinasi Wisata tersebut dikatakan tidak layak karenakan aliran air terjun tersebut merupakan air terjun yang disalurkan melalui pembuangan WC atau toilet masyarakat.

Menurut Yufita, pihaknya sekaligus putra asli Nias Barat sebaliknya prihatin, karena fasilitas yang digunakan tidak sesuai standar kepariwisataan.

Seharusnya, menurut Yufi, Dinas Pariwisata Nias Barat perlu melakukan pengkajian dan penilaian terlebih dahulu sebelum bertindak dalam melakukan sesuatu, agar tercipta kenyamanan bagi para pengunjung.

“Tindakan ini sangat memalukan untuk Nias Barat sendiri dan juga khalayak publik,” tegas Yufita.

Yufita menilai, ini merupakan contoh buruk kinerja Dinas Pariwisata Kabupaten Nias Barat dibandingkan daerah-daerah lainnya. Sekaligus, kata dia, akan jadi citra buruk bagi para wisatawan luar kota terlebih-lebih wisatawan asing.

“Kita berharap Kegiatan Dinas Pariwisata kedepannya jangan hanya pencitraan yang ada, tetapi lebih hati-hati lagi dalam melakukan tindakan, baik dalam penataan dan penentuan lokasi yang telah layak uji sebagai salah satu atau salah dua tempat wisata,” kata Yufita.

Editor: Damai Mendrofa

Komentar

Tinggalkan Balasan

2 komentar

  1. Kalau boleh, agar lebih akurat datanya maka lebih baik dilampirkan dokumentasi yang menjadi sudut penilaian ketidak layakan objek wisata dimaksud

    Karna saya sendiri belum pernah ke lokasi wisata dimaksud,

News Feed