oleh

PANGGILAN UNTUK MEMELIHARA ALAM INDONESIA

Penulis: Ganda Martunas Sihite, Alumni Fakultas Hukum Universitas Riau

 

Dilansir dari data  Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan BPS menunjukkan sampah plastik Indonesia mencapai 4 juta ton per tahun. Sebanyak 3.2 juta ton diantaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

 

INDONESIA yang katanya kaya akan sumber daya alam yang melimpah, kini ungkapan tersebut hanya ada tertulis dalam buku buku pelajaran sekolah yang secara tertulis pada kala itu. Realitnya alam yang melimpah itu tidak akan dilihat lagi seiring dengan kerusakan alam yang terus menerus terjadi tanpa adanya itikad untuk menjaga dan melestarikannya. Kini alam Indonesia menangis. Indonesia yang semula merupakan negara yang memiliki hutan tropis yang terluas didunia, kini luasan tersebut menyusut akibat deforestasi.

Berdasarkan data yang dilansir dari Forest Watch Indonesia, bahwa luas wilayah hutan Indonesia pada tahun 190 diperkirakan 193 juta hektar. Sedangkan menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2017 luas wilayah hutan yang mencapai sekitar 125 juta hektar. sedangkan pada tahun 2015 luas hutan masih 128 hektare. sedangkan pada tahun 2019 menurut data Direktorat Jendral Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PTKL) KLHK menunjukkan luas wilayah hutan 94,1 juta hektare. Jika dilihat perbandingan tersebut terjadi penurunan yang diakibatkan oleh pembakaran dan pembalakan liar (deforestasi).

Pada tahun 2011, moratorium hutan mulai dilakukan Indonesia untuk menghentikan sementara penerbitan izin kehutanan, namun berdasarkan studi yang diterbitkan di Proceedings of the nationall Academy of Sciences menyatakan bahwa moratoraium tersebut tidak berjalan dengan efektif, sebaliknya jutaan hektar hutan mengalami kerusakaan. Pada tahun belakangan ini juga kembali penurunan wilayah hutan terjadi akibat kebakaran  yang terjadi dibeberapa daerah seperti di Riau, Kalimantan, Jambi dan beberapa daerah lainnya.

Selain hutan, persoalan alam lainnya yang juga miris untuk dilihat yaitu adanya pencemaran merkuri. Jika melihat Studi Bali Fokus di wilayah Cisitu menunjukkan bahwa konsentrasi merkuri di udara sangat tinggi mencapai 50.549,91 nangram per meter kubik (ng/m3) di kolam ikan.  Kemudian persoalan sampah plastik yang begitu banyaknya yang kini Indonesia tercatat sebagai negara penyetor sampah plastik ke lautan kedua terbesar di dunia. Dilansir dari data  Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan BPS menunjukkan sampah plastik Indonesia mencapai 4 juta ton per tahun. Sebanyak 3.2 juta ton diantaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Dan tentunya dengan jumlah yang sebesar itu akan memberikan kontribusi buruk terhadap ekosistem lautan. Hal tersebut berdasarkan Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa sampah plastik khususnya mikroplastik sudah mengancam kerusakan ekosistem laut di Indonesia dan terus berlangsung sepanjang tahun tanpa henti.

Masih banyak lagi persoalan alam yang sampai saat ini menjadi momok perhatian bersama, adapun diantaranya aktivitas pertambangan, PLTU, pencemaran laut oleh limbah dan minyak kapal, pencemaran lingkungan akibat limbah pabrik dan Rumah sakit, pembuangan emisi karbon yang berlebihan ke udara, pencemaran laut oleh sampah plastik hingga mengganggu ekosistem lautan, perburuan ilegal dan lain-lainnya. Berbagai macam persoalan akan kerusakan alam tak henti hentinya terus terjadi, memikirkan untuk menjaga dan merawat hanya segelintir orang yang mau melakukannya. Negara yang seharusnya hadir dengan segala perangkat nya namun nyatanya itu hanya isapan jempol, bahkan kebijakan yang dilahirkan oleh Negara dengan perangkatnya dijadikan sebagai lahan basah untuk kepentingan bisnis guna menimbun pundi pundi uang bersama para kelompok atau jaringannya. Ya, timbulnya persetubuhan antara negara dengan kapitalis akan melahirkan kebijakan yang tidak berpihak terhadap keadilan ekologis, begitu mungkin ungkapan yang lebih tepat atas realita yang terjadi saat ini.

Apabila diperhatikan perjalanan sejarah yang terjadi terutama di Indonesia, pada era kolonialisme atau era penjajahan negara negara maju seperti eropa  kehadirannya tidak hanya menjajah Indonesia, melainkan juga mengeksploitasi sumber-sumber kekayaan alam yang ada pada Indonesia. Hingga berganti nya pun era kolonisasi menjadi neokolonisasi saat sekarang ini, negara maju melalui perusahaan transnasional kebanyakan beroperasi di Indonesia.Anehnya, Indonesia tidak menyadari akibat yang ditimbulkan oleh perusahaan transnasional tersebut. Alih alih untuk investasi dan meningkatkan ekonomi tanpa memperhatikan keberlangsungan dan keberlanjutan ekologi. Serangkaian regulasi yang seharusnya menjamin keadilan ekologi malah mengancam dengan memasukkan pasal pasal yang memberi kemudahan agar investor asing dengan leluasanya mudah mengobrak abrik, mengeruk sumber daya alam Indonesia dengan meninggalkan kerusakan ekologis yang sangat miris. Lebih tepatnya seperti ucapan pepatah “habis manis sepah dibuang, habis sumber daya alam kemudian tinggalkan dengan kerusakan”.

Katakan saja berawal dari UU Penanaman Modal yang melegalkan hak guna usaha selama puluhan tahun. PP Nomor 2 tahun 2008 yang mempersilahkan investor tambang membuka kawasan hutan lindung untuk dieksplorasi kekayaan tambangnya. Revisi UU Minerba ditengah pandemi Covid 19, yang memperlemah aspek perlindungan lingkungan hidup dalam penetapan wilayah pertambangan, RUU Cipta kerja yang semakin mempermudah perusakan lingkungan, hutan serta akan semakin terncamnya ekosistem alam . Melihat regulasi itu miris ketika hampir tidak adanya regulasi yang bervisikan keadilan ekologis.

Manusia terus mengeruk alam tanpa memikirkan dampak yang terjadi ketika alam sudah tidak terawat lagi. Berbagai bencana yang timbul seperti banjir, longsor, masuknya satwa dihutan ke perkampungan  dan lainnya seharusnya sudah menyadarkan manusia betapa pentingnya untuk menjaga dan merawat alam.  Tetapi tak semudah membalikkan telapak tangan, justru lebih parah lagi berbagai aktivitas yang merusak alam, mulai dari membakar hutan dan lahan, polusi udara, galian tambang yang meninggalkan kawah bencana, limbah yang memberi dampak terhadap pertanian petani, dan lainnya yang hal itu adalah ulah daripada korporasi/perusahaan yang tidak memikirkan keberlangsungan ekologis.

Melihat kondisi tersebut, bukan menjadi suatu keheranan apabila Susan George mengatakan bahwa lingkungan hidup sesungguhnya pihak yang paling  kalah dala percaturan globalisasi, akibat investasi dari negara negara maju yang berorientasi profit di negara negara berkembang.

Jika berpandangan pada sudut pandang keberlangsungan ekologis, patut disyukuri  bahwa kehadiran Virus Corona saat ini memberi angin segar bagi bumi yang sudah sesak akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia. Dengan adanya kebijakan Work From Home atau aktivitas yang harus dari rumah menimbulkan aktivitas aktivitas yang merusak alam tidak ditemukan. Langit biru yang dapat dinikmati tanpa adanya asap kebakaran hutan, udara yang segar tanpa adanya polusi udara akibat asap kendaraan dan asap pabrik. Kebijakan yang mengutamakan kesehatan dan keberlangsungan hidup akibat Covid19 menjadi cerminan bahwa alam kini sangat perlu untuk dilestarikan. Biasanya lalang dan tumbuhan yang harus disemprot kini manusia pun disemprot, bahkan harus dikurung dalam rumah. Melihat kondisi tersebut sudah seharusnya manusia sadar bahwa keberlangsungan ekologis sangat harus dilanjutkan dan dilestarikan.

Dalam sebuah film yang diluncurkan oleh Conservation International (CI) Indonesia yang berjudul “Alam Berbicara/Nature is Speaking” menyiratkan pesan bahwa alam tidak memerlukan manusia, tapi sebaliknya manusialah yang memerlukan alam.  Dari pesan film yang diluncurkan oleh CI pada Desember 2015  tersebut  dan  kerusakan alam yang hari ini semakin terjadi secara terus menerus sekiranya menjadi suatu panggilan bersama untuk memelihara alam, dan menjaga kelestarian alam terutama alam Indonesia. alam (hutan dan lautan) merupakan sumber kehidupan yang dibutuhkan manusia, jika dipelihara sebaik mungkin dapat mengurangi kerusakan alam.

Panggilan bersama untuk memelihara alam harus dibarengi dengan komitmen bersama dari seluruh elemen. Alam akan lestari dan terawat apabila semua bertindak untuk perubahan. Setiap individu bertanggung jawab atas kerusakan dan eksploitasi alam yang berlebihan.  Sebagaimana pesan seorang Peter F Drucker, bahwa orang harus berubah cara berpikir dan bertindaknya, jika tidak berubah maka akan ketinggalan kereta. tetapi jika semuanya berubah , orang akan kehilangan makna kehidupan. pilihannya bukanlah “berubah ATAU tidak berubah” melainkan “ berubah DAN tidak berubah”. Sekarang melalui pesan Drucker tersebut dalam perspektif ekologis diharapkan,  bahwa perubahan alam harus dengan tindakan dan pikiran yang berorientasi untuk merawat dan melestarikan. Pilihan itu ada disetiap individu sekiranya perubahan untuk kehidupan ekologi yang bermakna.

Judul, isi dan ulasan artikel sepenuhnya merupakan tanggungjawab dari Penulis

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed