oleh

KEMANUSIAAN SEBAGAI INTI PANCASILA

Penulis: Reinhard Hutapea, Kompartemen Ideologi dan Kaderisasi DPP PA GMNI, dan Staf pengajar Fisipol UDA Medan/  Fisipol Unitas Palembang

 

Mustahil/ Non sense, penjajah yang katanya adalah bangsa/ negara yang berbudaya tinggi, yang berTuhan, yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologis, serta yang memiliki kelebihan-kelebihan yang lain tidak memahami penjajahan sebagai inhuman. Namun sebagaimana disebut sebelumnya, mereka tetap saja menabraknya. Tetap saja birahinya lebih utama dari akal sehatnya.

 

1 JUNI 2020, Pancasila genap berusia 75 tahun. Suatu usia yang jika dihubungkan dengan manusia sesungguhnya sudah tua, namun jika direlasikan dengan perjalanan suatu bangsa, jawabannya relatif. Bisa disebut sudah dewasa, namun bisa juga sebaliknya. Kalau sudah dewasa, seharusnya implementasi nilai-nilainya sudah dirasakan masyarakat, namun faktanya masih jauh dari idealisasi demikian. Dan itu masih penuh perdebatan, yang tentunya bukan tujuan penulisan ini, melainkan memori atau historisitasnya, sebagaimana kata penggalinya “Jasmerah”, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”.

Menurut sejarah, kita sudah paham bahwa ketika Pancasila di rumuskan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Bung Karno, suasana dunia saat itu masih diwarnai “Imperialisme dan Kolonialisme”, yakni banyak negara yang masih terjajah. Terjajah oleh imperium negara-negara Barat/Eropa, yang kemaruk hasil-hasil kekayaan alam negara jajahan. Tidak terkecuali Indonesia yang sekian abad dijajah Belanda. Betapa pedih, sengasara, dan menderitanya, suatu bangsa jajahan, rasanya tak perlu lagi diuraikan, sebab semua sudah memahaminya.

Semua paham bahwa imperialism-kolonialisme adalah inhuman, melanggar kemanusiaan alias dehumanisasi. Oleh karena itulah perumus Pancasila, khususnya Bung Karno, dengan tekad yang kuat mencantumkan “Kemanusian” sebagai salah satu sila utamanya.  Sila yang juga diangkat dari titah-titah tokoh dunia saat itu, seperti pemikir besar Sosialis, AA Baars, pendiri China, Dr Sun Yat Sen, yang menorehkan San Min Chui (nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme), serta Bapak India, Mahatma Gandhi, yang mengumandangkan “my nationalism is humanity” (nasionalisme saya adalah kemanusiaan).

Pemikiran yang jika ditilik lebih jauh, sesungguhnya tidak baru, tidak istimewa, karena hakiki kemanusiaan sudah melekat (inheren) pada kehidupan atau manusia itu sendiri, sebagaimana pesaan setiap “budaya”, dan titah yang diajarkan “Pencipta” dalam kitab-kitab sucinya. Pemikiran yang biasa saja, pemikiran yang sesungguhnya, justru paling dipahami oleh penjajah/kolonial, namun entah mengapa, mereka tetap saja melabraknya.

Mustahil/ Non sense, penjajah yang katanya adalah bangsa/ negara yang berbudaya tinggi, yang berTuhan, yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologis, serta yang memiliki kelebihan-kelebihan yang lain tidak memahami penjajahan sebagai inhuman. Namun sebagaimana disebut sebelumnya, mereka tetap saja menabraknya. Tetap saja birahinya lebih utama dari akal sehatnya.

Menolak Perang Dingin

Konstatasi yang membenarkan pandangan kaum realis, dan atau khususnya kalangan Marxis, yakni (bahwa) kehidupan itu pada dasarnya adalah konfliktual, antagonistik, dan anarchis, yang harus diselesaikan dengan jalan kekerasan, atau perang. Tidak dengan jalan damai yang lebih soft, seperti dialog, bujukan, persuasi, atau diplomasi sebagaimana diajarkan para moralis atau kaum idealis.

Fakta-empirik terhadap pandangan ekstrim demikian, dapat dilihat, ketika Perang Dunia II selesai, yang ditandai dengan bertekuk lututnya Jepang terhadap Sekutu, yang dipimpin AS, tidak membuat perang selesai. Perang pembebasan kemerdekaan dimana-mana masih terus berlangsung, padahal setahun sebelumnya (tahun 1944), baru saja dibentuk Lembaga yang tujuan utamanya menghindari perang dan menciptakan perdamaian, yakni Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB/UNO).

Di seluruh penjuru dunia, khususnya di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, pendudukan (ooccupation) yang ditopang militer masih terus berlangsung. Imperialism/  Kolonialisme sebagaimana era sebelumnya, tetap bercokol di ketiga wilayah itu. Sang kolonial terus menjajah dengan dengan segala pola dan variannya, sebagai konsekwensi dari power politics yang berubah, yakni tampilnya dua raksasa baru, (yang sebelumnya tidak terlibat kolonialisme), yakni AS dan Uni Soviet.

Kedua super power ini, diam-diam melesat syahwat kolonialnya, sebagaimana yang dipraktekkan sekutu-sekutunya. Mereka terlibat dalam perang baru yang namanya terkenal dengan sebutan perang dingin (cold war). Perang yang tidak frontal antar mereka, melainkan perang yang melibatkan negara lain sebagai ajangnya. Mereka yang perang, namun negara-negara lain yang korban utama.

Perang yang nyaris menyeret seluruh negara terjun perang dunia III, kalau saja, Mc Arthur, panglima perang AS dalam Perang Korea saat itu, tidak ditarik Washington pulang ke negerinya. Arthur sebagaimana sejarahnya, telah berencana meluaskan perang melewati Korea (hingga China), dan akan meledakkan senjata-senjata pemusnah baru disana.

Namun sebelum ide gila itu diwujudkan, ia (Arthur) ditarik ke Washington oleh Harry S Truman, (presiden AS saat itu). Ia digantikan Letjen Matthew B. Ridgway, seorang militer yang lebih memilih jalan diplomasi (soft), dialog, dan persuasi ketimbang persfektif perang. Meminjam Clausewitz (ahli perang dari Jerman), diplomasi sebagai kelanjutan perang.

Dengan segala pertimbangan realis dan idealisnya, yakni membludak/ banyaknya manusia, dan atau khususnya tentara yang tewas, besarnya kerugian materil/ moril, plus kekuatan lawan (Korea Utara) yang disokong China dan Uni Soviet dengan persenjataan yang semakin besar, akhirnya memaksa kedua pihak menempuh kesepakatan, yakni gencatan senjata (cease fire) pada tahun 1953.

Kesepakatan yang hingga hari ini belum berubah, yakni kedua negara secara hukum masih dalam suasana perang, belum dalam suasana damai. Suasana yang terus langgeng, karena kedua pihak yang berseteru, yakni AS yang berpaham Liberal-Kapitalis, dan Uni Soviet yang beraliran Sosialis-Komunis tetap menghadirkan militernya dalam jumlah besar disana (siap-siap jika perang Meletus).

Keadaan yang dalam perjalanan selanjutnya, terus meningkatkan ketegangan dunia. Ketegangan yang terus tereskalasi, sebab kedua adi kuasa berlomba-lomba membangun militer dan persenjataannya secara besar-besaran. Termasuk pembangunan pakta-pakta pertahanan ang disponsori AS, seperti NATO di Atlantik, SEATO di Asia tenggara, Cento di Asia Tengah, perjanjian militer AS-Jepang, yang mengijinkan Okinawa sebagai pangkalan milter AS, dan yang disponsori seterunya, yakni Uni Sovet membangun pakta pertahanan yang bernawa Pakta Warsawa (Warsaw pact).

Keadaan yang selanjutnya melesatkan apa yang disebut “polisi dunia, tanpa pemerintahan dunia”. Kedua pihak melakukan manuver, patroli, dan menebar ancaman di mana-mana. Di seluruh penjuru dunia yang letaknya strategis ditempatkan moncong-moncong nuklir/ rudal yang setiap saat siap diledakkan, namun tidak diledak-ledakkan. Hanya show of force untuk menakut-nakuti pihak lawan, dan negara-negara lain yang tak mendukungnya. Dunia seakan-akan hanya milik mereka berdua.

Menegakkan Kemanusiaan

Negara-negara lain, khususnya Indonesia, yang tidak sepaham dengan politik jahanam demikian, dengan perlahan menyusun perlawanan moral (moral force). Negara-negara ini berpandangan bahwa dunia ini tidak hanya milik AS plus sekutu-sekutunya yang berpaham “Liberalis-Kapitalis”, dan Uni Soviet dengan sekutu-sekutunya, yang “Sosialis-Komunis”, melainkan negara-negara nasional yang cinta damai dan kemerdekaan.

Dengan dimotori Indonesia, negara-negara yang berpaham nasionalistik ini, berketetapan hati tidak akan terlibat perang dingin, dan tidak mengikuti pola-pola yang mereka paksakan, yakni harus masuk salah satu diantara mereka. Tidak !. Dengan landasan Pancasila, Indonesia yang dipimpin tokoh-tokoh nasionalis, menggalang negara-negara lain (yang sepaham) melakukan perlawanan moral, yang diwujudkan dalam Konperensi Asia Afrika April 1955.

Konperensi yang dihadiri bangsa-bangsa Asia- Afrika yang sudah merdeka maupun terjajah, yang melahirkan 10 kesepakatan (Dasa Sila Bandung), yang intinya hidup berdampingan secara damai (peacefull co existence). Pada intinya Indonesia, dan negara-negara Asia-Afrika menolak Imperialisme, Kapitalisme, dan Kolonialisme, sebab mengalienasi kemanusiaan dari habitatnya.

Keinginan luhur yang kemudian ditekankan Bung Karno ketika berpidato dalam Sidang Umum PBB XV, 30 september 1960. Kala itu Bung Karno mengkritik habis konsep Barat, baik yang Liberal-kapitalis, maupun yang Sosialis-Komunis, yang membuahkan penjajahan dan kesengsaraan bagi ummat manusia. Puncaknya adalah ketika lahirnya Gerakan Non Blok (Non Aligned) di Beograd/Belgrado, Yugoslavia tahun 1961. Gerakan yang jauh lebih luas dari anggota KAA, dan terang-terangan menolak Imperialisme, Kapitalisme, dan Kolonialisme dalam segala manifestasinya.

Era emas politik luar negeri Indonesia, yang tidak pernah lagi terjadi sejak Bung Karno dilengserkan dari singgasana kekuasaan. Merdeka !

Judul, isi dan ulasan artikel sepenuhnya merupakan tanggungjawab dari Penulis

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed