oleh

WAJAH BARU DAN MASA DEPAN LABURA

Penulis: Adi S.H, Pegiat Sosial.

 

Sehingga rakyat Labura terkesan menginginkan sosok pemimpin yang tidak tersandera atau memiliki latar belakang persoalan-persoalan yang berbau ”aroma korupsi, kolusi dan nepotisme.”

 

SETELAH berkoordinasi dengan gugus tugas Covid 19, akhirnya menteri dalam negeri memutuskan Pilkada serentak akan dilaksanakan pada bulan Desember 2020. Di tengah persiapan Pilkada dan bencana pandemic, setidaknya sedikit menguntungkan bagi pertahanan yang ingin maju kembali. Tidak sedikit petahana menggunakan “panggung bencana” membagi-bagikan bantuan seolah-olah itu adalah bantuan pribadi. Sehingga banyak kepala daerah yang biasanya tidak mau terjun ke lapangan, hari ini sibuk mendistribusikan bantuan, seperti ”sales”.

Salah satu wilayah yang akan menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) adalah kabupaten Labuhan Batu Utara. Ekspektasi (harapan) publik sangat tinggi akan munculnya sosok yang mampu membawa Labura lebih baik, tentu dengan wajah, warna dan gagasan baru. Harapan ini tentu memiliki alasan yang kuat karena rakyat Labura seakan lelah dengan praktik-praktik korupsi yang belakangan ini justru mengemuka hampir di semua daerah. Rakyat Labura sudah cerdas dan bijak melihat bahwa korupsilah yang membuat mereka miskin. Sehingga rakyat Labura terkesan menginginkan sosok pemimpin yang tidak tersandera atau memiliki latar belakang persoalan-persoalan yang berbau ”aroma korupsi, kolusi dan nepotisme.”

Sepuluh tahun melakukan pemekaran wilayah, tentu masih banyak hal-hal yang butuh dikritisi, Dan inilah ruang bagi para calon untuk mengajukan gagasan bagi Labura ke depan. Diantaranya bagaimana rakyat banyak mengkritisi pembangunan infrastruktur seperti jalan yang sampai hari ini belum tersentuh pengaspalan. Salah satu diantaranya adalah dusun Grojogan yang berada di kecamatan Aek Kuo. Jika diukur jarak lokasi ini hanya sekitar lebih kurang 3 km dari rumah Bupati Labura, Aek Kota Batu. Mereka telah lelah menerima janji tentang rencana pengaspalan jalan mereka.

Kedua, terkait persoalan ekonomi. Di Labura kita pahami bahwa banyak sekali perkebunan-perkebunan khususnya perkebunan sawit. Posisi ini sejatinya sangat menguntungkan Labura jika tanggung jawab sosial perusahaan perusahaan dapat di “manajemen” secara optimal, untuk bisa dimanfaatkan bagi kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sekali lagi bagi kepentingan rakyat bukan kepentingan pribadi. Tentunya menggunakan aturan dan regulasi yang tepat. Misalnya bisa mendorong Perda terkait tanggung jawab perusahaan (CSR) yang melakukan bisnisnya di Labura. Sejauh ini apakah sudah adanya Perda yang mengatur tentang CSR di Labura?
Jika belum memiliki Perda tentang CSR, lalu kemana muaranya tanggung jawab sosial perusahaan-perusahaan selama ini? Hullahu’alam.

Ketiga, maraknya peredaran narkoba menjadi keresahan bagi kelompok orang tua khususnya terhadap masa depan anak-anaknya. Tentu dibutuhkan sosok pimpinan yang berani tegas dan berkomitmen dengan sungguh-sungguh untuk memberantas narkoba tanpa pandang bulu. Karena narkoba sudah menjadi persoalan bersama dan menjadi sebuah kejahatan luar biasa. Karena sosok pimpinan yang tegas juga akan mempengaruhi langgam penegakan hukum di wilayah itu sendiri. Sebab banyak penegakan hukum masih berpihak kepada ada orang-orang yang memiliki kekuasaan dan uang, sementara tidak berpihak kepada orang-orang yang lemah dan miskin.

Selanjutnya karena Labura penduduknya juga majemuk dengan berbagai macam suku dan agama, maka dibutuhkan sosok pemimpin yang ” nasionalis”, yang bisa diterima oleh semua kalangan.

Berikutnya Pemilihan Kepala Daerah adalah bagian dari proses demokrasi di mana rakyat memiliki hak untuk tidak mendapatkan intervensi, intimidasi, dan praktik praktik curang lainnya dalam menentukan pilihannya.

Sebab intimidasi intervensi dan praktik-praktik curang adalah cara-cara berdemokrasi yang tidak bijak dan membahayakan bagi proses demokrasi ke depan. Karena kemenangan yang dihasilkan dengan cara-cara demikian, adalah kemenangan yang tidak layak dibanggakan.

Saatnya rakyat Labura berani menentukan suaranya dan menentukan pilihan pimpinannya secara independen dan bebas tanpa harus takut diintimidasi demi Labura yang lebih baik untuk generasi berikutnya. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed