oleh

Kisah Korban Hidup KM Gemilang asal Barus, Terdampar dan Empat Hari Makan Beras

“Beras kami ada, di kaleng, setelah kapal tenggelam (kaleng berisi beras) dibawa air, jadi itulah yang saya makan. Berasnya 10 liter dalam kaleng, itulah kumakan dikit-dikit, kalau minum, dari air terjun itulah aku minum,” imbuh Usman.

 

Rakyatsumut.com, Usman Harahap, pria berusia 50 tahunan, Nahkoda KM Gemilang 717 GT 02 asal Desa Pasar Tarandam, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara memendam mimik wajah yang tertahan.

Itu dilakukannya, agar tangisnya tak tumpah saat turun dari KN SAR Nakula yang berhasil mengevakuasinya, Kamis (21/5/2020). Saat Kapal hendak berlabuh di dermaga, Usman terlihat hanya terduduk memandang kosong. Wajahnya sedikit memucat.

Usman Harahap, Nahkoda KM Gemilang 717 GT 02 asal Barus yang selamat dari maut, sesaat sebelum tiba di Dermaga PPN Sibolga. Foto: Rakyatsumut.com/ Damai Mendrofa
Usman Harahap, Nahkoda KM Gemilang 717 GT 02 asal Barus yang selamat dari maut, sesaat sebelum tiba di Dermaga PPN Sibolga. Foto: Rakyatsumut.com/ Damai Mendrofa

Sejumlah petugas SAR dan Polisi Air memegang erat tangan Usman agar kokoh menuruni Kapal. Beberapa kerabatnya yang datang dari Barus, menyambutnya di tepi dermaga. Punggungnya di elus-elus para kerabat, tanda dukungan agar ia tabah pasca musibah yang barusan ia alami.

BACA JUGA: Remaja Putri Belasan Tahun Digauli Paksa Dalam Gubuk di Ladang Jagung

Saat dikerumuni para kerabat, Kasatpol Air Polres Sibolga AKP M Sihombing lantas mendekat dan menyambutnya, serta membawanya menggunakan mobil ke kantor Satpol Air. Usman yang mengenakan kemeja berwarna krem dan celana trening warna oranye serta bertelanjang kaki, terduduk lemah di kursi plastik di depan AKP M Sihombing.

Ia meneguk sedikit air mineral yang diberikan AKP M Sihombing. Menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan. Wajahnya sesekali tertunduk, kemudian memandang bergantian AKP M Sihombing dan awak media. Beberapa kerabat juga ada di kantor itu.

“Sejak malam Minggu (16/5/2020), kami sudah kenak badai, tapi terdampar hari Minggu (17/5/2020) jam sembilan pagi, kejadiannya di ujung Selatan Pulau Mursala,” tutur Usman mengawali kisahnya.

Cuaca saat itu kata Usman memang demikian tak bersahabat. Angin kencang memicu gelombang ombak yang besar, mengisyaratkan bencana. Kapal KM Gemilang 717 GT 02 yang ia nahkodai bersama Fahmi, awak buah kapal yang turut bersamanya dari Desa Pasar Tarandam, Barus terombang ambing.

BACA JUGA: Oknum TNI Diduga Bunuh Istri di Tapteng, Jenazah Dikabarkan Tinggal Tulang Belulang

Usman lantas meminta agar Fahmi menurunkan jangkar. Sayang, jangkar tak berfungsi dan kapal masih terseret ombak tak beraturan. Rencana berlabuh di muara, pun urung dilakukan. Sementara situasi kian memburuk, karena setelahnya mesin kapal tak berfungsi.

Fahmi, korban meninggal KM Gemilang 717 GT 02 di Perairan Mursala, Tapteng saat divakuasi KN SAR Nakula. Foto: Rakyatsumut.com/ Damai Mendrofa
Fahmi, korban meninggal KM Gemilang 717 GT 02 di Perairan Mursala, Tapteng saat divakuasi KN SAR Nakula. Foto: Rakyatsumut.com/ Damai Mendrofa

“Dan kami engkol-engkol gak bisa lagi. Kami sudah dekat ke air terjun. Dan angin tiba-tiba pindah ke Tenggara, jangkar pun kami lepas dan kapal terus dibawa ke pinggir,” tutur Usman sembari membenarkan kemejanya.

Fahmi Melompat Sebelum Kapal Mendekat ke Daratan

Melihat gelagat kondisi yang kian kacau, Usman pun memberi aba-aba kepada Fahmi agar bersiap-siap menyelamatkan diri saat kapal semakin mendekati daratan. Sayang, aba-aba Usman tak dilakukan Fahmi, ia melompat sebelum kapal mendekati daratan.

“Fahmi, kubilang, siap-siap, dah dekat ke darat kita lompat, rupanya belum dekat ke darat, dia udah lompat, digulung gelombang (ombak) lah dia. Kalau aku, dah dekat ke darat, baru lompat aku,” kata Usman.

BACA JUGA: Pemprov Sumut Salurkan 13.951 Paket Sembako ke Padangsidimpuan

Usai berhasil menyelamatkan diri, Usman tak lagi menyaksikan Fahmi. Sementara kapal KM Gemilang pecah karena dihantam ombak yang tak berhenti.

“Sudah gak ada lagi kapal itu, udah pecahlah semuanya,” ucap Usman.

Kelebat Bayangan

Usman mengaku letih saat berhasil selamat ke tepi laut tak jauh dari Air Terjun Mursala. Ia terdampar saat gelap merayapi malam dan kemudian ‘jatuh’ dalam tidur. Namun tak lama, sekitar pukul 04:00 WIB pagi Usman terjaga dan menyaksikan sesuatu berkelabat di permukaan air laut.

Tim SAR gabungan saat mengevakuasi jenazah korban KM Gemilang 717 dari kapal KN SAR Nakula ke Ambulans. Foto: Rakyatsumut.com/ Damai Mendrofa
Tim SAR gabungan saat mengevakuasi jenazah korban KM Gemilang 717 dari kapal KN SAR Nakula ke Ambulans. Foto: Rakyatsumut.com/ Damai Mendrofa

“Jam empat kutengok ke laut, kayak ada bayangan hitam, hantu ini kupikir. (Usman kembali tertidur lagi) dan bangun aku pagi, air lagi pasang, kutengok mayat itu, kuseret dia, ke pinggir. Akupun sudah beranilah aku, itulah dapat dia,” urai Usman.

Tiga Unit Telepon ada di Fahmi

Sejak berangkat dari Kualo Pasar Tarandam, Jumat (15/5/2020) menuju perairan di Pulau Mursala, Usman dan Fahmi membawa 3 unit telepon genggam. Sepanjang melaut, telepon-telepon itu berada di ‘tangan’ Fahmi.

BACA JUGA: Kabid PKB dan BBNKB Sumut: Pandemi Covid-19 Sangat Berpengaruh Terhadap PAD Sumut

Dan saat musibah itu datang, telepon itu agaknya ikut tenggelam bersama kapal dan Fahmi. Itu juga sebabnya Usman dan Fahmi tak lagi bisa dihubungi pemilik kapal.

“Dibungkusnya (Fahmi) di plastik agar tidak basah terkena air laut,” kata Usman.

Usman Empat Hari Makan Beras

Sejak terdampar di Minggu, Usman mengaku terus bertahan agar tetap hidup. Selama itu, ia makan beras mentah yang memang mereka bawa untuk bekal selama mencari ikan di perairan Mursala.

“Beras kami ada, di kaleng, setelah kapal tenggelam (kaleng berisi beras) dibawa air, jadi itulah yang saya makan. Berasnya 10 liter dalam kaleng, itulah kumakan dikit-dikit, kalau minum, dari air terjun itulah aku minum,” imbuh Usman.

Tutup Piber Jadi Penanda

Usman mengaku terus berusaha agar bisa selamat dari pulau Mursala. Selama empat hari terdampar, ia mengaku tak terlihat kapal yang melintas karena lokasinya yang tertutup dan jarang dilintasi kapal.

BACA JUGA: Di Tengah Pandemi, Wacana Sistem Politik ini Muncul: Kepala Daerah Dipilih DPRD

Usman lantas berpikir mencari akal agar keberadaannya diketahui. Ia kemudian menggantungkan tutup piber ikan di tepi pulau sebagai pertanda.

“Aku buat tutup piber di pinggir pantai, mungkin itulah dilihat dan aku dijemput, jadi sekarang sudah lega dan segar,” ucap Usman, meski masih dalam nada yang lemah.

Tim SAR Gabungan saat mengevakuasi korban meninggal KM Gemilang 717 GT 02 asal Barus. Foto: Istimewa
Tim SAR Gabungan saat mengevakuasi korban meninggal KM Gemilang 717 GT 02 asal Barus. Foto: Istimewa

Satpol Air Minta Usman Bersedia Dipanggil Sewaktu-waktu

Kasatpol Air AKP M Sihombing mengaku membawa Usman untuk diserahterimakan kepada pihak keluarga. Ia juga meminta agar Usman bersedia sewaktu-waktu jika dipanggil untuk memberikan keterangan.

“Jadi Tekong kan harus bertanggungjawab, dan kami minta agar suatu saat kami panggil, kami harap agar datang dan hadir disini, begitu ya pak,” kata Sihombing.

BACA JUGA: Sembako dari Propinsi Sumut dan BLT Dana Desa di Taput Disalurkan

Review Kabar KM Gemilang Hilang Kontak

KM Gemilang 717 GT 02 dilaporkan hilang kontak sejak Minggu (17/5/2020) oleh pemilik kapal Rahmansyah ke Pos SAR Sibolga Nias dibawah naungan Basarnas Nias.

KM Gemilang asal Desa Pasar Tarandam, Kecamatan Barus tersebut diawaki Nahkoda Usman Manurung dan Fahmi.

Atas laporan tersebut, melalui perintah lisan Kepala kantor pencarian dan pertolongan Nias M. Agus Wibisono, Melalui Kasi Operasi Benteng Hilton Telaumbanua, KN SAR Nakula yang bersandar di PPN Sibolga pun dikerahkan melakukan pencarian bersama tim SAR Gabungan lainnya.

Kapten KN SAR Nakula, Arotama Telaumbanua didampingi Korpos SAR Sibolga Hari Susanto kepada Rakyatsumut.com di dermaga PPN menjelaskan, kedua korban ditemukan tak jauh dari lokasi Air Terjun.

Korban pertama yang ditemukan, Usman Harahap (50) pada pukul 09:15 WIB. Sementara Fahmi ditemukan pukul 11:40 WIB, tak jauh dari Air Terjun Mursala.

Editor: Rommi Pasaribu

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed