oleh

130 Ribu Orang Dengan HIV Aids di Indonesia Terancam tak Dapat Obat, Jokowi Dipetisi

Rakyatsumut.com, Sebanyak 130 ribu Orang Dengan HIV Aids (ODHA) di Indonesia terancam tak mendapatkan obat-obatan untuk penyakitnya.

Ini diungkap dalam satu petisi online di change.org yang diterima redaksi Rakyatsumut.com, dikutip Kamis (15/5/2020). Petisi tersebut disebar ODHA Berhak Sehat dan ditulis Baby Rivona serta ditujukan kepada Presiden Joko Widodo.

Baby menulis, di tengah situasi pandemik COVID-19, pengadaan obat ARV di Indonesia kacau. Hampir seluruh daerah kekurangan stok obat atau bahkan kadaluarsa obat. Beberapa negara importer ARV yang biasa kirim obat ke Indonesia juga mengalami lockdown dan tidak bisa kirim stok obat.

“Ditambah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang tutup akses transportasi seperti kereta api dan pesawat terbang,” tulis Baby.

BACA JUGA:

Saat ini, lanjut Baby, ada kurang lebih 130.000 pasien dengan HIV yang dalam pengobatan dan diantaranya terdapat kurang lebih 11.000 pasien anak. Saya Baby Rivona adalah salah satu dari 130.000 orrang tersebut.

“Sudah 17 tahun saya hidup dengan HIV dan harus bergantung pada obat Anti Retroviral (ARV) seumur hidup,” kata Baby.

Dia lantas menjelaskan pentingnya obat ARV. ARV kata Baby merupakan obat penolong bagi dirinya dan ODHA lainnya. Obat tersebut menekan laju pertumbuhan virus dan tingkatkan daya tahan tubuh agar ODHA dapat pulih, hidup sehat dan produktif.

“Yang lebih penting, konsumsi ARV secara teratur turunkan jumlah virus HIV secara drastis agar tidak menularkan kepada orang lain. Makanya obat ARV  harus dikonsumsi setiap hari, seumur hidup,” kata Baby.

“Dari sinilah kami bisa kembali hidup dengan baik dan mendapatkan hak kami yang lainnya sebagai warga Negara Indonesia seperti menikah dan memiliki keturunan tanpa menularkan pasangan atau anak anak yang kami kandung nanti. Dengan tubuh yang sehat kami juga dapat menjaga stabilitas ekonomi di keluarga bahkan memungkinkan untuk berkontribusi pada Negara dengan membayar pajak,” lanjut Baby.

Menurut dia, obat ARV diberikan gratis, tapi hanya dapat diakses secara terbatas oleh orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di rumah sakit dan puskesmas yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan.

“Tapi sekarang, ada banyak kawan yang mulai kesulitan mengakses ARV dimasa COVID-19,” ungkapnya.

Baby membeberkan, ada ODHA yang harus habis ongkos bolak balik Nusa Penida – Denpasar setiap dua minggu sekali untuk ambil obat. Banyak juga yang terpaksa minum ARV jenis lain karena kekosongan obat dan mengakibatkan mendapat banyak efek samping seperti pusing, susah tidur, dan sampai bahkan Anemia. Belum lagi mereka yang putus ARV karena putus asa dengan kondisi kekosongan ini.

Menurut Baby, respon pemerintah dirasakan sangat lambat tentang masalah ini. Di tengah pandemic COVID-19, negara khususnya Kementerian Kesehatan seharusnya memiliki skala prioritas untuk kelompok yang memiliki kebutuhan khusus akan pengobatan.

BACA JUGA:

Dulu, sambung dia, pemerintah pernah dengar suara, dukungan, dan kerja keras ODHA bersama, saat pihaknya melayangkan petisi minta akses obat Hepatitis C jenis Sofosbuvir.

“Sekarang saya mau ajak kalian sekali lagi buat kemenangan dengan minta pemerintah untuk menjamin ketersediaan obat ARV di layanan kesehatan agar ODHA tidak putus pengobatan,” ajak Baby sembari menutup petisi itu.

Hingga saat ini, petisi tersebut telah ditandatangani sebanyak 6.383 orang dan terus menuai dukungan dari banyak pihak.

Editor: Rommi Pasaribu

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed