oleh

Soal Merk Intermie Dalam Paket Sembako di Tapteng, ini Penjelasan Kadis Sosial

Rakyatsumut.com, Penyaluran bantuan paket sembako kepada warga terdampak covid-19 di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara terus dilakukan.

Saat proses penyaluran berlangsung, agaknya mencuat beragam pertanyaan dari masyarakat, terkait salah satu isi paket bantuan itu. Yakni menyangkut mie instan bermerk Intermie.

“Ada simpang siur informasi di media sosial dan masyarakat, soal Intermie,” kata Kadis Sosial Parulian Sojuangon Panggabean kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (1/5/2020).

Sojuangon menyebutkan, awalnya Bupati Tapteng Bakhtiar Ahmad Sibarani memang menyarankan agar jenis mie instan yang diberikan dengan merk Indomie atau Supermie.

BACA JUGA: Polres Tapteng Tangkap Dua DPO Narkoba Sejak 2019, Berikut Ganja Kering

Namun kendala akhirnya ditemukan. Dimana penyedia atau pabrik kedua jenis mie instan tersebut di Jakarta menyatakan barang tidak dapat keluar dari pabrik.

“Pabrik meliburkan tenaga kerja, dan mereka tidak siap melayani pengiriman dalam seminggu,” ujar Sojuangon.

Akibat kendala itu, Sojuangon mengaku akhirnya mengkonfirmasi penyedia mie instan di Kota Medan. Lagi-lagi masalah ditemukan, dimana stok jenis Indomie hanya tersedia 10 ribu kotak.

“Kalau dibeli, nanti menyebabkan variasi merk bisa masalah di masyarakat. Nah, pabrik di Medan, Indomie dan Supermi gak ada, jadi disarankan Intermie, dan bisa disiapkan dalam waktu 1 minggu. Itu sebabnya kami siapkan intermie,” urai Sojuangon.

Dia menuturkan, pembelian Intermie memang menyebabkan terjadinya selisih anggaran. Kendati, anggaran tersebut kemudian ditambahkan ke jenis lain dalam paket sembako yang disalurkan, yakni Minyak Goreng.

“Makanya di paket itu jadi ada 4 jenis, beras, gula, minyak dan mie instan,” sebut Sojuangon.

BACA JUGA: FITRA Ingatkan Wali Kota Akhyar Terkait Beragam Kebijakan Penanganan Covid-19

Disinggung komentarnya terkait kritik yang menyebut merk Intermie yang tidak bergizi dan murah, Sojuangon menyebut kritik tersebut tidak beralasan.

“Saya pikir itu mengada-ngada-lah, semua makanan di indonesia ini kan sudah lewat BPOM. Lagian Intermie ini kan bukan yang paling murah,” tukasnya.

Sementara itu dia mengatakan, proses penyaluran paket sembako dengan total pagu senilai Rp4,9 miliar itu, masih terus berlangsung. Hingga Minggu, penyaluran sudah dilakukan ke 10 kecamatan.

“Dan akan berlanjut ke kecamatan lain,” kata Sojuangon.

Data Penerima Ditentukan Aparat Desa dan Kelurahan

Sojuangon mengatakan, saat ini data penerima paket sembako kembali berubah dengan adanya penambahan. Total penerima paket tersebut saat ini berjumlah 42.948 kepala keluarga.

Dia menjelaskan, soal pendataan para penerima paket sembako tersebut ditentukan aparat di Desa atau Kelurahan serta Kepala Lingkungan.  Termasuk, soal kriteria penerima, juga diserahkan kepada Kepala Lingkungan.

BACA JUGA: Petugas Gabungan Evakuasi TKI yang Terlantar di Hutan Bakau Asahan

Pihaknya, hanya sebagai penyalur bantuan dan pemberi arahan. Misalnya dengan menentukan, para penerima bukanlah warga yang ikut dalam program PKH maupun penerima paket sembako dari Kementrian.

“Kita kan memberikan arahan dan petunjuk, pelaksanaannya di desa dan kelurahan, yang tahu (data masyarakat yang layak menerima) kan lurah dan kepala desa, (penerima paket sembako) sudah didata 2 minggu sebelum penyaluran,” urai Sojuangon.

Yang tak Terima Paket Akan Kembali Didata

Sojuangon menuturkan paket sembako ke sebanyak 42.948 kepala keluarga tersebut mungkin saja belum menyentuh semua masyarakat terdampak.

BACA JUGA: Seorang Ibu di Kota Medan Hendak Jual Cabai, Dirampok dan Dibacok Hingga Jarinya Putus

Karena itu dia menuturkan, jika nantinya ada masyarakat yang belum mendapatkan paket sembako di luar dari 42 ribu kepala keluarga tersebut, pendataan akan kembali dilakukan.

“Akan dievaluasi kembali dan didata kembali lalu disalurkan,” tutup Sojuangon.

Editor: Rommi Pasaribu

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed