oleh

PEREMPUAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Dalam buku Sarinah, Soekarno tidak serta merta mengajak para perempuan Indonesia mengambil mentah-mentah feminisme dari barat. Menurut dia, para feminis di Eropa itu sendiri belum tentu puas dengan kemajuan yang diperoleh.

 

BERBICARA soal perempuan bukanlah soal buat perempuan saja, tetapi soal masyarakat. Maka Peringatan Hari Kartini 2020 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.Tahun ini bebarengan dengan pandemi covid-19. Biasanya kegiatan menyambut Hari Kartini ramai digelar di berbagai lembaga pemerintah dan swasta maupun di tiap-tiap sekolah. Sehingga pada saat ini Indonesia sedang dilanda virus pandemi covid-19 yang dimana mempunyai dampak terhadap bagi perempuan yang hanya bekerja baik buruh pabrik, maupun pekerja rumah tangga untuk sementara di-rumah-kan yang merupakan kebijakan pemerintah terkait penanganan pandemi covid-19. Maka perempuanlah yang punya beban lebih banyak.

Sehingga bekerja di rumah juga berpotensi memicu meningkatnya kekerasan terhadap perempuan, dimana pandemi covid-19 ini bisa menimbulkan masalah dalam hal keuangan sehingga terjadi kekerasan dalam rumah tangga tersebut. Perempuan tidak dipandang sebagai individu yang merdeka terhadap tubuhnya, segala bentuk pengekspresian diri direpresi oleh masyarakat yang patriarkis tersebut, yang dimana dari beberapa surat korespondensi Kartini dengan Abendanon, ada satu surat dengan kalimat: “Saya mohon kepada Anda untuk memberikan kesempatan bagi kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan, bukan dalam hal untuk menyaingi kaum laki-laki, melainkan untuk lebih menyempurnakan perannya pada peradaban”. Kalimat itu memberi pelita bagi gerakan perempuan dan emansipasi di Indonesia.

Dalam buku Sarinah, Soekarno tidak serta merta mengajak para perempuan Indonesia mengambil mentah-mentah feminisme dari barat. Menurut dia, para feminis di Eropa itu sendiri belum tentu puas dengan kemajuan yang diperoleh. Ketika kapitalisme masih berkuasa, perempuan dan laki-laki akan tetap tertindas. Pemberdayaan perempuan tidak lepas dari perjuangan sosialisme.

Dimana pekerja domestik perempuan harus diubah menjadi pekerjaan kolektif bersama. Islam juga turut mewarnai pemikiran Soekarno tentang gender. Ia berujar bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan berpasangan dan keduanya saling melengkapi. Karena itu, menyamakan gender dengan kelamin adalah sesuatu yang salah kaprah. Sebab, sebagai bentuk sosial, gender itu sendiri amat-sangat dinamis dan senantiasa berubah dipengaruhi ideologi tertentu.

Karena itu, perjuangan kesetaraan gender tidak mengacu terhadap persamaan kelamin, tapi justru bagaimana menciptakan kesadaran kritis masyarakat yang tidak lagi terpaku terhadap gender kaku yang membatasi manusia. Kesetaraan gender telah memberikan beban pada perempuan. Perempuan memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan anak-anaknya untuk menjadi generasi unggul pembangunan peradaban yang mulia. Di era wabah pandemi Covid-19 ini, perempuan harus mengambil peran lebih untuk mengurangi serta mencegah adanya korban.

Banyak aktivitas positif, produktif juga bernilai ekonomis yang sebetulnya bisa dilakukan perempuan. Peran, tantangan, sekaligus sebagai kelompok yang rentan terdampak covid-19 ini seolah menegaskan peran perempuan cukup signifikan dalam urusan pendidikan, pelayanan kesehatan, tak terkecuali dalam urusan ekonomi domestik di rumah tangga.

PEREMPUAN PENDIDIK

Dimana peran perempuan pendidik yaitu menjadikan anak perempuan menjadi ibu hebat pembangunan peradaban yang taat pada syariat dan menjadikan anak laki-lakinya sebagai calon pemimpin yang bertaqwa dan bertanggung jawab atas semua permasalahan manusia dalam kehidupan. Karena sesungguhnya, peran perempuan di era digital, bukan untuk dikapitalisasi. Di sinilah relevansi perempuan Indonesia harus memiliki pengetahuan yang setara dengan kaum laki-laki. Pendidikan untuk semua (education for all) harus senantiasa disuarakan dan diimplementasikan di lapangan.

PEREMPUAN KESEHATAN

Dalam pelayanan kesehatan peran perempuan dalam upaya pencegahan penyebaran covid-19 ini pada kenyataannya memiliki posisi signifikan. Data dari United Nation Population Fund (UNPFA) mengungkapkan dalam penanganan covid-19 secara global ini sebanyak 70% didominasi tenaga kesehatan berjenis kelamin perempuan. Kini saatnya perempuan berdaya harus bangkit.

PEREMPUAN KREATIFITAS

Ada banyak peluang baik gerak maupun kreatifitas, yang muncul dari ide dan tangan perempuan. Bagi perempuan yang memiliki keahlian dalam bidang marketing misalnya, bisa memulai dengan berbisnis online dengan menjadi reseller, agen distributor. Mereka tidak membutuhkan banyak biaya, melainkan cukup bermodalkan keahlian memasarkan produk keluarga, teman, atau kerabat. Kegiatan ini mudah dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan sosial media.

PEREMPUAN AKTIVIS

Serta bagi para aktivis perempuan, masa sosial distancing mungkin menjadi salah satu tantangan dalam menjalankan rutinitas. Ada banyak kesempatan dan peluang yang bisa dilakukan dari rumah, dengan menulis artikel, opini, bahkan berita misalnya atau membuat/mengikuti kajian, diskusi, seminar secara online. Oleh sebab itu, KOMNAS HAM mencatat bahwa tingkatan kekerasan seksual atas perempuan semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Maka dari itu saya Arif Daniel Purba sebagai Ketua Perlindungan Hukum Perempuan dan Anak, dari Komisariat Hukum GMNI Cabang Bengkulu secara tegas menyampaikan untuk mengesahkan RUU PKS dan RUU Perlindungan PRT, cabut kebijakan Diskriminatif Gender, serta menolak Omnibus Law dan RUU Ketahanan Keluarga. Sehingga perempuan-perempuan Indonesia mempunyai hak yang sama terhadap laki-laki. Maka DPR yang seharusnya wakil rakyat mendengarkan suara rakyatnya sendiri, tidak hanya membuat peraturan yang tidak semestinya.

Sehingga Kaum perempuan harus percaya diri dengan kekuatan wanita dan berusaha membuat perubahan nyata yang tidak hanya di bibir saja. Dengan saling mendukung dan usaha tekun, tentu wanita juga dapat membuktikan bahwa mereka bukan manusia kelas dua dan dapat turut mengubah dunia. Sebagaimana bung Karno dengan lantang berseru: “wanita Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan nanti jika Republik telah selamat, ikutlah serta mutlak dalam usaha menyusun negara nasional. Didalam masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial itulah engkau nanti menjadi wanita yang bahagia, wanita yang merdeka!”.

Oleh: Arif Daniel Purba, Ketua Perlindungan Hukum Perempuan dan Anak Aktivis GMNI Cabang Bengkulu

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed