oleh

Meriam Bambu, Permainan Tradisional Khas Ramadhan yang Kian Hilang Tergerus Zaman

Rakyatsumut.com, Meriam bambu, merupakan permainan tradisional yang diperkirakan terinspirasi dari senjata meriam yang dipakai oleh bangsa Portugis saat berupaya menduduki wilayah Nusantara pada abad ke-6.

Cara memainkan meriam bambu pun nyaris sama dengan cara menggunakan meriam sungguhan, yakni dengan menyulut lubang yang dibuat di pangkal bambu dengan menggunakan api.

Pembuatan meriam bambu berbahan utama batang pohon bambu. Dalam memilih batang bambu yang akan digunakan harus memperhatikan usia dan diameternya, karena hal tersebut akan mempengaruhi kualitas suara yang dihasilkan nantinya.

BACA JUGA:

Semakin tua usianya dan semakin lebar diamaternya, maka akan semakin baik pula suara letupan yang akan dihasilkan. Mewaspadai agar batang bambu tidak mudah pecah, biasanya batang bambu akan diikat dengan lilitan kawat atau karet ban.

Untuk menghasilkan suara letupan, meriam bambu membutuhkan bahan bakar berupa minyak tanah atau karbit yang dicampur air. Minyak tanah atau karbit yang dicampur air ini dimasukkan ke dalam bambu melalui lubang kecil yang dibuat pada pangkal bambu sesuai takaran yang diperlukan, kemudian dibumbui dengan sedikit garam.

Sebagai alat penyulut, digunakan ranting kayu kering atau bilah bambu yang dilicinkan hingga seukuran sumpit, kemudian dibalut atau dililit dengan kain, dicelupkan ke minyak tanah lalu diberi api.

Permainan meriam bambu ini hampir membudaya di seluruh daerah di Nusantara. Sehingga banyak nama yang disematkan pada permainan ini berdasarkan masing-masing daerah. Di Bangka Belitung permainan ini disebut Bedil Bambu, di daerah Minangkabau disebut Badia Batuang, di Aceh dinamai Beude Terieng, di wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur disebut Long Bumbung, di Jawa Barat dikenal dengan Lodong, di Banten dijuluki Bebeledugan, dan di Gorontalo serta suku bangsa wilayah timur dikenal dengan nama Bunggo.

Ada yang khas dari permainan meriam bambu ini, yakni selalu dimainkan pada saat bulan Ramadhan. Terutama pada saat malam takbiran atau malam sebelum lebaran tiba. Dengan kata lain, untuk memainkan meriam bambu ini, harus menunggu satu tahun.

Di beberapa daerah permainan meriam bambu ini seakan sudah menjadi tradisi, karena sudah dimainkan secara turun-temurun dan rutin pada setiap bulan Ramadhan.

Permainan tradisional khas Ramadhan ini sangat digemari oleh anak-anak dan remaja lelaki. Dan acap kali membuat pusing ibu-ibu rumah tangga tatkala anak laki-lakinya keranjingan memainkan permainan ini. Karena berdampak pada persediaan minyak tanah dan garam di dapur yang dengan tiba-tiba bisa berkurang dengan drastis.

BACA JUGA:

Biasanya, selain dimainkan pada malam setelah salat tarawih, tidak jarang meriam bambu juga dimainkan pada siang atau sore hari. Anak-anak dan remaja lelaki akan berkumpul, kemudian berbagi tim untuk memainkan permainan meriam bambu ini. Mereka akan mengadu keras suara meriam bambu.

Letupan demi letupan akan sahut-menyahut, layaknya seperti sedang terjadi perang. Umumnya meriam bambu ini dibunyikan di tempat-tempat yang luas dan jauh dari pemukiman penduduk, seperti di lapangan, di ladang, di kebun, dan di tempat lainnya. Pasalnya, meski dari bambu, namun letupannya mencapai hingga radius kilometer jauhnya.

Namun sayang, seiring tergerus zaman, keasyikan bermain meriam bambu seakan tinggal kisah untuk dikenang. Perlahan di berbagai daerah saat bulan Ramadhan seperti sekarang ini, letupan meriam bambu dengan bunyi menggelar kini hampir tidak lagi terdengar. Kebiasaan perang-perangan letupan meriam bambu oleh anak-anak dan remaja yang dulu mewarnai Ramadhan pun mulai ditinggalkan.

Selain faktor sulitnya mencari minyak tanah sejak pemerintah melakukan konversi minyak tanah ke gas LPG, saat ini sudah tak banyak lagi didapati lapangan yang luas untuk memainkan meriam bambu. Sehingga jika dimainkan di lahan yang sempit bisa mengganggu ketenangan warga, situasi ini membuat permainan meriam bambu kian ditinggalkan.

Tambah lagi sekarang sudah gampang ditemui petasan produksi pabrik dengan jenis bermacam-macam dan bunyi yang nyaring diudara saat dibakar, menjadikan pilihan baru untuk menggantikan permainan meriam bambu.

Editor: Damai Mendrofa

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed