oleh

Tradisi Marpangir Jelang Ramadhan, Budaya yang Melekat Namun Tidak Diatur dalam Syariat

Rakyatsumut.com, Ramadhan, bulan kesembilan dalam kalender Hijriah, salah satu bulan yang diistimewakan oleh umat Islam. Bulan ini merupakan bulan penuh pengampunan, menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Masyarakat Muslim begitu antusias menyambut bulan ini dengan bermacam bentuk persiapan. Berbagai tradisi dan ritual pun kerap dilakukan hanya untuk sekadar menyambut bulan penuh pengampunan ini.

Di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), Sumatera Utara, salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat dalam menyambut bulan suci ini yakni dengan ‘Marpangir’.

Marpangir, tradisi mandi ramuan wewangian yang terbuat dari bermacam jenis rempah-rempah alami. Tradisi ini sudah melekat bagi masyarakat Paluta, karena turun-temurun sudah dilakukan sejak dahulu.

Secara etimologi, Marpangir’ berasal dari kata ‘pangir’ ditambah kata kerja ‘mar’, dalam bahasa indonesia ‘mar’ sama dengan ‘ber’ sedangkan ‘pangir’ dalam bahasa Indonesia berarti ‘ramuan’. Dengan demikian Marpangir dapat diartikan sebagai mandi ramuan.

Namun, karena ramuan rebusannya terbuat dari bahan-bahan yang menghasilkan wangi, seperti daun pandan wangi, bunga kenanga, bunga mawar, akar wangi, serai wangi, daun nilam, daun limau, jeruk purut, dan ampas kelapa yang dikeringkan, lebih tepatnya Marpangir diterjemahkan sebagai mandi ramuan wewangian.

Marpangir biasanya dilakukan sehari sebelum masuk bulan Ramadhan, dalam istilah masyarakat Paluta hari itu disebut sebagai hari ‘sadari Marpangir’, atau hari dimana tradisi Marpangir digelar atau dilaksanakan.

Umak Algi, warga Desa Sihopuk Baru, Kecamatan Halongonan Timur, Kabupaten Paluta mengatakan, kegiatan Marpangir tersebut sudah sangat melekat dengan masyarakat dan dilakukan rutin setiap tahun oleh masyarakat.

Bahan-bahan untuk rebusan 'pangir'. Foto: Istimewa
Bahan-bahan untuk rebusan ‘pangir’. Foto: Istimewa

Ia menyebutkan, ada dua cara untuk melaksanakan Marpangir, pertama melakukannya sendiri di rumah atau bergabung dengan masyarakat lainnya di pemandian atau bantaran sungai.

“Sekilas tradisi Marpangir ini hampir sama dengan tradisi yang berlaku di wilayah pulau Sumatera lainnya, seperti tradisi mandi balimau misalnya. Dalam pelaksanaan Marpangir ini, saya lebih memilih melakukannya sendiri dirumah ketimbang ikut berbondong-bondong ke pemandian.” Ungkapnya, Rabu (22/4/2020).

Tambahnya lagi, bagi sebagian masyarakat Paluta, tujuan tradisi Marpangir ini hanya sebatas kegiatan membersihkan tubuh dengan rebusan ramuan wewangian jelang memasuki bulan suci Ramadhan. Namun tak sedikit juga beranggapan, dengan Marpangir mereka bermaksud menghanyutkan dosa-dosa masa lalu, dan hal ini yang perlu diluruskan dengan memberikan pemahaman tentang syariat agar tidak terjebak dalam kesyirikan.

“Sebenarnya, sebagai umat Islam, saya merasa janggal dengan tradisi ini. Sebab setahu saya tradisi seperti ini tidak ada diatur dalam syariat. Sehingga dulu saat masih SMA sempat saya tanya ke orang tua tentang sejarah tradisi Marpangir ini. Mereka bilang ini bagian dari tradisi ataupun budaya peninggalan dari umat Hindu yang menyatu secara alami setelah masuknya Islam ke Indonesia. Mereka berpesan kepada saya, tradisi ini tidak wajib, ini hanya bagian dari budaya leluhur, cukup jaga niat saja, jangan sampai terjebak karena niat yang salah, supaya tidak melanggar syariat atau jadi syirik,” urainya.

Sementara itu, ulama jebolan Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, Ustad Makmur Harahap, yang saat ini berdomisili di Desa Sihopuk Baru, Kecamatan Halongonan Timur, Kabupaten Paluta, mengatakan, tradisi Marpangir adalah sebuah budaya yg dilakukan oleh para leluhur, dengan tujuan agar disaat malam menjelang shalat tarawih badan terasa bersih dan wangi. Tidak ada nas, anjuran atau tuntunan dalam syariat Islam yang mengatur  tentang tradisi Marpangir tersebut.

Ustad Makmur juga mengatakan, Marpangir merupakan budaya yang berakar dari ajaran Hindu. Soal halal haramnya, dalam Islam tidak terdapat dalil yang Qat’i (tegas) mengenai tradisi Marpangir. Hanya saja dalam kutipan hadits Nabi Muhammad SAW menegaskan “Sesungguhnya Allah itu baik, mencintai kebaikan. Bersih mencintai kebersihan.” (H.R. Tirmizi).

Namun juga, dalam Islam ada hukum yang cenderung diterapkan pada perkara yang lebih bersifat keduniaan. Yakni mubah, yang berarti apabila dikerjakan tidak berpahala dan tidak berdosa. Jika ditinggalkan pun tidak berdosa dan tidak berpahala, hukumnya bisa berubah tergantung niat. Dengan kata lain, soal halal haramnya tradisi Marpangir tergantung niat pelaksanaannya.

“Menurut pandangan Islam, tradisi Marpangir jelas tidak berdasar, namun kegiatan Marpangir ini adalah hal yang diperbolehkan. Dengan catatan, lakukan sendiri di rumah saja, tak perlu berbondong-bondong mandi ke pemandian, apalagi bersama-sama dengan yang bukan muhrim, itukan haram. Dan jangan sampai seorang Muslim menjadikan tradisi ini sebagai rukun dalam penyambutan dan pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan,” jelasnya.

Editor: Damai Mendrofa

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed