oleh

Cerita dari Paluta Saat Pandemi Covid-19, Warga ‘Mangalomang’ untuk Tolak Bala

Rakyatsumut.com, Dalam tradisi masyarakat, Lemang memiliki nilai historis tersendiri. Lemang biasanya disajikan pada saat hari-hari besar, pesta-pesta adat, dan tolak bala.

Lemang adalah penganan dari beras ketan bercampur santan kelapa yang digulung dengan selembar daun pisang, kemudian dimasak dengan cara dibakar sampai matang dalam sebilah bambu.

Campuran ketan dan santan kelapa di dalamnya menciptakan rasa yang sangat gurih. Ditambah aroma bambu yang dibakar semakin menguatkan sensasi wangi dan rasanya yang sangat unik.

Di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), Sumatera Utara, mangalomang atau memasak lemang menjadi tradisi yang sudah turun temurun dilakukan oleh masyarakat.

Seorang ibu di lingkungan VI, Kelurahan Pasar Gunung Tua, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Paluta, membolak balek Lemang yang dibakar agar matang secara merata. Tradisi ‘Mangalomang’ biasanya digelar untuk menyambut hari besar Islam seperti Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.Foto: Dokumentasi pribadi
Seorang ibu di lingkungan VI, Kelurahan Pasar Gunung Tua, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Paluta, membolak balek Lemang yang dibakar agar matang secara merata. Tradisi ‘Mangalomang’ biasanya digelar untuk menyambut hari besar Islam seperti Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.Foto: Dokumentasi pribadi

Mangalomang ini melibatkan beberapa orang, tradisi ini menjadi sarana mempererat tali silaturahmi. Ada yang mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat lemang seperti beras ketan, santan, dan daun pisang. Adapula orang yang mempersiapkan adonan dan memasukkan adonan lemang ke dalam bambu.

Biasanya, tradisi ini digelar untuk menyambut hari besar Islam seperti Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Selain itu, tradisi mangalomang juga dijadikan masyarakat Paluta sebagai kegiatan untuk tolak bala dengan dibarengi doa bersama memanjatkan doa tolak bala agar terhindar dari segala macam bencana, musibah, malapetaka dan berbagai hal buruk lainnya. Dan lemang akan disajikan sebagai santapan bersama di sela kegiatan tersebut.

BACA JUGA:

Selama dua pekan terakhir ini, di tengah merebaknya pandemi Coronavirus Disease (Covid-19), masyarakat di hampir seluruh wilayah Kabupaten Paluta menggelar kegiatan tolak bala dengan mangalomang.

Lemang dimasak dalam jumlah banyak. Setelah matang, selain disajikan untuk kegiatan doa bersama, lemangnya akan dibagikan kepada warga sekitar.

Ibu-ibu di lingkungan VI, Kelurahan Pasar Gunung Tua, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Paluta saat mempersiapkan bahan ‘Mangalomang’. Foto: Dokumentasi pribadi
Ibu-ibu di lingkungan VI, Kelurahan Pasar Gunung Tua, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Paluta saat mempersiapkan bahan ‘Mangalomang’. Foto: Dokumentasi pribadi

Tak tertinggal, warga Lingkungan VI, Kelurahan Pasar Gunung Tua, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Paluta, juga tampak menggelar kegiatan mangalomang tersebut.

Umak Dewi, salah seorang warga yang ikut mengambil peran pada kegiatan tersebut tampak antusias sekali. Ia bercerita bahwa kegiatan seperti ini sudah menjadi warisan budaya di kalangan masyarakat Paluta, namun tentunya dengan tidak mengesampingkan aqidah agama.

“Dalam hal tolak bala, kegiatan mangalomang-nya hanya sebatas seremonial saja, sebatas melestarikan budaya, intinya tetap berserah diri seraya memanjatkan doa tolak bala kepada Yang Kuasa,” katanya, Senin (20/4/2020).

Sebab katanya, dahulu sebelum agama mempengaruhi budaya, tolak bala dapat diartikan sebagai mitigasi, yaitu tindakan pencegahan atau penangkal bencana dan kerap dikaitkan dengan kegiatan spiritual dan mistik yang cenderung mengarah kepada syirik.

Editor: Damai Mendrofa

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed