oleh

Oknum DPRD Asahan Mengaku Tidak Dilayani Rapid test, Ini Penjelasan Gugus Tugas Covid-19 Sumut

Rakyatsumut.com, Seorang Anggota DPRD Asahan Rippy Hamdani yang berstatus sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP) mengaku tidak dilayani pihak Rumah Sakit untuk melakukan rapid test.

Dikutip dari detikcom, Awalnya Rippy menjelaskan dirinya menjadi ODP karena melayat saat Ketua Fraksi Golkar DPRD Sumut, Syamsul Bahri Batubara, meninggal dunia pada Rabu (25/3/2020). Syamsul saat itu wafat dalam status PDP tapi, menurut Rippy, sudah menjalani rapid test dan hasilnya negatif Corona.

Namun, Pada Jumat (10/4/2020), hasil tes swab Syamsul keluar. Almarhum dinyatakan positif Corona.

“Ketua Fraksi Golkar meninggal kalau nggak salah 25 Maret keluar rapid dari Murni Teguh negatif. Baru saat ini diketahui setelah 25 Maret itu, 15 atau 14 hari ada hasil swab mengatakan positif,” ucap Rippy, Minggu (12/4/2020).

Dia mengatakan warga yang melayat, termasuk dirinya, panik usai mengetahui Syamsul wafat dan positif Corona. Rippy menyebut Gugus Tugas COVID-19 Asahan kemudian mengimbau warga yang melayat memeriksakan diri ke RS.

“Saya hubungi Kominfo, Jubir Gugus Tugas, tanya rapid test ke mana? Dia saran ke RS Abdul Manan Simatupang. Malamnya saya hubungi Dirut RS, di-SMS-lah melalui orang tua saya datang jam 9 pagi,” ujar Rippy.

Dia kemudian mengaku datang ke RS Abdul Manan Simatupang pada Sabtu (11/4/2020) sekitar pukul 09.00 WIB, dan saat itulah Rippy mengaku tidak dilayani untuk menjalani rapid test.

“Nggak ada koordinasi antara Dirut RS dan pegawai. Ke sana tadi perawat bingung, ‘aduh tidak ada instruksi, kami tidak bisa mengambil keputusan’. Dilempar ke tata usaha, tata usaha juga nggak bisa ambil keputusan. Sudah satu jam lebih di situ lalu melalui bagian pelayanan tidak bisa rapid test,” tuturnya.

Menanggapi ini, Gugus Tugas COVID-19 Sumut buka suara. Jubir Gugus Tugas COVID-19 Sumut, Mayor Kes Whiko Irwan, mengatakan orang yang melayat ke rumah duka pasien wafat positif Corona seharusnya bisa mengikuti rapid test karena dinilai punya riwayat kontak erat.

“Harusnya kalau yang rapid test itu orang kontak erat, ODP atau PDP. Kalau pasien positif, dia ada riwayat kontak berarti dia kontak erat, itu boleh dia rapid test kalau alatnya ada,” ucap Whiko.

Kata Whiko, Gugus Tugas Sumut sudah mendistribusikan alat rapid test ke kabupaten/kota yang ada di Sumut. Whiko bakal mengecek mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi.

“Sudah didistribusikan. Itu kan prinsipnya begini, yang di-rapid test kalau di pedomannya itu kan kontak erat, ODP dan PDP yang belum di-swab gitu,” tuturnya.

Laporan: Rommy

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed