oleh

UPAYA PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT DAN ANAK USIA SEKOLAH DALAM MENJAGA SUMBERDAYA ALAM PERIKANAN DAN KELAUTAN DALAM KEGIATAN “ MENGHADAP LAUT”

estuaria merupakan tempat bermuaranya buangan

SUMBERDAYA perikanan dan kelautan yang berada di Kabupaten Tapanuli dan Kota Sibolga memiliki beragam karakteristik dan nilai biodiversitas yang sangat tinggi. Ekosistem daerah pesisir dan lautan yang terbentang sepanjang ± 200 km dengan gugusan pulau dan laut di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga, tergolong cukup lengkap.

Adapun ekosistem tersebut antara lain : Estuaria (Muara Sungai), Padang Lamun, Hutan Mangrove (Hutan Bakau), Terumbu Karang, Ikan-ikan dan Organisme Karang, Pulau-pulau kecil, Pantai dengan Pasir Putih (Gambar A). Banyak muara sungai (estuaria) yang bermuara ke pantai-pantai yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. Posisi estuaria yang merupakan wilayah muara sungai yang merupakan tempat menumpuknya nutrien baik dari daratan maupun lautan, sehingga daerah estuaria merupakan daerah yang memiliki produktivitas yang tinggi (Muhtadi et.al., 2017). Di sisi lain, estuaria merupakan tempat bermuaranya buangan, menjadikan daerah estuaria sebagai tempat menumpuknya limbah dari daratan. Hal ini menyebabkan estuaria sebagai tempat yang sangat rentan terhadap gangguan dan kerusakan lingkungan.

Ekosistem mangrove merupakan penyangga dan memiliki multifungsi. Secara fisik, mangrove memiliki peranan penting dalam melindungi pantai dari gelombang, angin dan badai. Secara ekologi, ekosistem mangrove berperan sebagai sistem penyangga kehidupan bagi berbagai organisme akuatik maupun organisme teresterial. Baik sebagai tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan (nursery ground) maupun sebagai tempat berkembang biak (spawning ground)(Romimohtarto, 2009). Secara sosial-ekonomi, ekosistem mangrove merupakan sumber mata pencaharian masyarakat pesisir. Selain itu, ekosistem mangrove berkontribusi sebagai pengendali iklim global melalui penyerapan karbon (Ghufron dan Kordi, 2012).

Padang lamun memiliki fungsi ekologis dan nilai ekonomis yang sangat penting bagi manusia. Lamun juga menjadi faktor penentu keberadaan duyung (Dugong dugong) dan penyu hijau (Chelonia mydas). Ancaman kerusakan ekosistem padang lamun di perairan berasal dari aktifitas manusia dalam mengeksploitasi sumberdaya ekosistem padang lamun dengan menggunakan potasium sianida, sabit dan parang serta pembuangan limbah industri pengolahan ikan, sampah rumah tangga dan pasar tradisional (Romimohtarto, 2009).

Terumbu karang memainkan peranan penting dalam perlindungan garis pantai dari abrasi gelombang, terutama mengurangi dampak gelombang dan gelombang badai tropis. Hal ini sangat jelas terlihat pada pulau-pulau tropis dengan pantai berpasir, hamparan rumput laut, dan hutan mangrove di belakang terumbu karang. Fungsi perlindungan dari terumbu karang ini penting terutama di masa depan karena adanya perubahan iklim yang akan mengakibatkan naiknya permukaan laut serta meningkatnya frekuensi dan tingkat kedahsyatan badai tropis(Romimohtarto, 2009). Keberadaan terumbu karang sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan baik yang bersifat fisik maupun kimia. Pengaruh itu dapat mengubah komunitas karang dan menghambat perkembangan terumbu karang secara keseluruhan. Kondisi terumbu karang yang perlu pengelolaan yang tepat akan membantu meminimalkan dan menghilangkan penurunan keanekaragaman hayati yang terdapat didalamnya (Muhtadi et.al., 2017).

Ekosistem-ekosistem tersebut merupakan ekosistem yang sangat rentan terhadap perubahan dan kerusakan lingkungan seperti pendangkalan, pencemaran, gelombang pasang bahkan pemanasan global. Dengan demikian, maka perlu adanya keseimbangan antar pemanfaatan dan kelestarian lingkungan. Keterbatasan sarana dan prasarana, termasuk data dan informasi tentang potensi sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan terhadap ekosistem-ekosistem tersebut (Dahuri et.al., 2001). Selain ekosistem-ekosistem tersebut, pulau-pulau kecil juga memiliki peranan yang tidak kalah penting sebagai salah satu komponen penyusun keanekaragaman hayati di Indonesia pada umumnya dan  Kabupaten Tapanuli Tengah serta Kota Sibolga pada khususnya.

Pulau-pulau kecil yang selama ini menjadi tumpuan hidup masyarakat lokal, tentu saja diharapkan mampu memberikan penghidupan bagi mereka. Pengembangan aspek ekologi saja dengan membatasi akses masyarakat lokal terhadap aspek ekonomi hanya akan melahirkan ketidakberdayaan  masyarakat yang hidup di pulau tersebut atau di wilayah sekitarnya (Dahuri et.al., 2001). Untuk memperoleh hasil yang maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan maka pihak penyelenggara pemerintah yang berperan sebagai mesin pembangunan baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah perlu dibekali pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang prinsip-prinsip pengelolaan pulau-pulau kecil (Muhtadi et.al., 2017).

Hasil penyuluhan mengenai pentingnya peran serta masyarakat dan anak usia sekolah dalam menjaga potensisumberdaya alam perikanan dan kelautan yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga dalam kegiatan “Menghadap Laut”, menunjukkan bahwa pemahaman dan kesadaran siswa/i, masyarakat umum, dan komunitas masyarakat tentang perlunya menjaga dan memanfaatkan sumberdaya perikanan dan kelautan secara optimal, lestari, dan berkelanjutan masih sangat rendah. Hal tersebut dikarenakan belum adanya penyadaran serta  penyuluhan mengenai pentingya menjaga sumberdaya perikanan dan kelautan demi keberlanjutan masing-masing sumberdaya perikanan dan kelautan bagi masa depan keberlangsungan hidup manusia dan organisme yang menggantungkan hidup dari sumberdaya tersebut.

Akan tetapi, hasil penyuluhanini juga menunjukkan bahwa siswa/i, masyarakat umum, dan komunitas masyarakat masih membuka diri akan program-program penyadaran mengenai pentingnya menjaga sumberdaya perikanan dan kelautan dan masih menunggu untuk diadakannya program-program penyuluhan selanjutnya.

Gambar 1. Sumberdaya perikanan dan kelautan yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. (Ki-Ka Atas) Hutan Mangrove (Bakau) di Tapian Nauli, Hutan Mangrove (Bakau) dan Padang Lamun di Pandaratan, (Ki-Ka Bawah) Pantai Pandan Menghadap ke Daratan, Pantai Pandan Menghadap ke Laut, dan Pulau Mursala.
Gambar 1. Sumberdaya perikanan dan kelautan yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. (Ki-Ka Atas) Hutan Mangrove (Bakau) di Tapian Nauli, Hutan Mangrove (Bakau) dan Padang Lamun di Pandaratan, (Ki-Ka Bawah) Pantai Pandan Menghadap ke Daratan, Pantai Pandan Menghadap ke Laut, dan Pulau Mursala.
Gambar 2. Kegiatan “ Menghadap Laut” pada tahun 2018 (a). Acara ini yang diselenggarakan oleh Komantab (Komunitas Menjaga Pantai Barat) (b), Komunitas Pencinta Penyu Kelurahan Binasi-Sorkam (c), Komunitas Bikers Tapanuli Tengah-Sibolga (d), Badan SAR Nasional-Sibolga, Satpol Air, dan BPBD Kota Sibolga (e), Pangkalan TNI-AL Sibolga(f), Siswa Siswi Sekolah Menengah Atas Kabupaten Tapanuli Tengah (g) dan Sibolga, Kereta Pustaka(h), dan Anak-anak Berkebutuhan Khusus Binaan Ibu Biv Rosdieri M Sibarani (i).
Gambar 2. Kegiatan “ Menghadap Laut” pada tahun 2018 (a). Acara ini yang diselenggarakan oleh Komantab (Komunitas Menjaga Pantai Barat) (b), Komunitas Pencinta Penyu Kelurahan Binasi-Sorkam (c), Komunitas Bikers Tapanuli Tengah-Sibolga (d), Badan SAR Nasional-Sibolga, Satpol Air, dan BPBD Kota Sibolga (e), Pangkalan TNI-AL Sibolga(f), Siswa Siswi Sekolah Menengah Atas Kabupaten Tapanuli Tengah (g) dan Sibolga, Kereta Pustaka(h), dan Anak-anak Berkebutuhan Khusus Binaan Ibu Biv Rosdieri M Sibarani (i).
Gambar C. Kegiatan penyuluhan dalam kegiatan “ Menghadap Laut” pada tahun 2018 bersama dengan Komantab (Komunitas Penjaga Laut Pantai Barat), (Ki-Ka Atas) Arsanti, Teguh Heriyanto, dan Fitri Ariani ; Irwan Limbong, Fitri Ariani, dan Insaniah Rahimah, (Ki-Ka Bawah) Bapak Maecenas Dony, Bapak Budi Sikumbang, Fitri Ariani, Teguh Heriyanti, dan Arsanti; Syahrial, Bapak Budi Sikumbang, Fitri Ariani, dan Arsanti.
Gambar C. Kegiatan penyuluhan dalam kegiatan “ Menghadap Laut” pada tahun 2018 bersama dengan Komantab (Komunitas Penjaga Laut Pantai Barat), (Ki-Ka Atas) Arsanti, Teguh Heriyanto, dan Fitri Ariani ; Irwan Limbong, Fitri Ariani, dan Insaniah Rahimah, (Ki-Ka Bawah) Bapak Maecenas Dony, Bapak Budi Sikumbang, Fitri Ariani, Teguh Heriyanti, dan Arsanti; Syahrial, Bapak Budi Sikumbang, Fitri Ariani, dan Arsanti.
Gambar D. Tim dosenSTPK Matauli dari Program Studi Akuakultur, Teknologi Penangkapan Ikan, dan Sosial Ekonomi Perikananberfoto bersama Siswa-Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga pada Kegiatan “Menghadap Laut” pada tahun 2018(Atas Ki-Ka) Fitri Ariani, S.Pi., M.Si, Insaniah Rahimah, S,Pi., M.Si, dan Irwan Limbong, S.Pi., M.Si(Bawah Ki-Ka) Arsanti, S.Pi., M.Si., M.Sc, dan Teguh Heriyanto., S.Pi., M.Si.
Gambar D. Tim dosenSTPK Matauli dari Program Studi Akuakultur, Teknologi Penangkapan Ikan, dan Sosial Ekonomi Perikananberfoto bersama Siswa-Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga pada Kegiatan “Menghadap Laut” pada tahun 2018(Atas Ki-Ka) Fitri Ariani, S.Pi., M.Si, Insaniah Rahimah, S,Pi., M.Si, dan Irwan Limbong, S.Pi., M.Si(Bawah Ki-Ka) Arsanti, S.Pi., M.Si., M.Sc, dan Teguh Heriyanto., S.Pi., M.Si.

Oleh: Arsanti, S.Pi, M.Si., M.Sc, Dosen Program Studi Akuakultur, Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli

loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed