oleh

Ragam Komentar Warga di Sibolga Pasca PDP asal Sidempuan Meninggal

Rakyatsumut.com, Meninggalnya PDP asal Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara memicu reaksi dan komentar, terutama bagi masyarakat di wilayah yang berjarak dekat dengan daerah itu.

Rakyatsumut.com menghimpun beragam komentar dari warga di Kota Sibolga, Jumat (4/4/2020) malam melalui pesan singkat elektronik whatsapp. Diketahui kota ini hanya berjarak 2 jam perjalanan saja dari kota yang terkenal dengan buah salak itu.

Selain unsur kedekatan secara geografis, PDP asal Padangsidimpuan itu diketahui memiliki banyak pelanggan dari kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Korban diketahui bekerja sebagai penjual parfum dan pakaian.

“Saya cukup prihatin, apalagi pasien tersebut dalam keadaan hamil dan sangat takut virus ini akan mewabah ke Kota Sibolga,” kata Hajri Yanti Lubis (28), warga di jalan Elang, kelurahan Pancuran Bambu.

Hajri pun berharap, apa yang terjadi di Kota Padangsidimpuan tidak terjadi di Kota Sibolga.

“Saya berharap virus ini secepatnya musnah, pemerintah hendaknya memberlakukan karantina wilayah dan kepada pengusaha agar dapat menyalurkan bantuan bagi warga ketika pemerintah melakukan karantina wilayah,” harap Hajri.

Fendi Nasution (49), warga jalan MS. Sianturi, gang Nelayan, Kelurahan Aek Habil menyebut, ia menyesalkan keterlambatan penanganan terhadap pasien itu.

“Ajal memang sudah ketentuan Allah SWT dan itu tidak bisa kita hindari, hanya saja yang kita sesalkan keterlambatan dari dinas kesehatan Kota Padangsidimpuan, terkesan lamban mengetahui bahwa korban yang sebenarnya sudah PDP,” kata Fendi juga lewat pesan singkat.

Fendi berharap dilakukan penanganan cepat, agar potensi penularan tidak terjadi di kota tempat ia bermukim itu. Ia juga meminta pemerintah setempat lebih tegas terhadap para pendatang.

“Saya sebagai penduduk Kota Sibolga berharap agar Kota ini bersih dari wabah Covid-19 baik ODP Maupun PDP dan agar kita berhati-hati, segera melaporkan jika ada warga yang masuk ke sibolga datang dari luar pulau Sumatera untuk segera melaporkan ke dinas terkait, marilah kita bersama-sama memutus mata rantai covid-19 itu dengan lebih teliti dan jeli terhadap pendatang,” urai Fendi.

Nahdiratul Husna (27), warga jalan Aso-aso Kelurahan Pancuran Pinang agaknya senada dengan imbauan yang kian tegas dari pemerintah dan sejumlah tokoh. Yakni agar masyarakat di kota itu yang merasa pernah bersentuhan dengan pasien PDP asal Padangsidimpuan, lebih sadar dan melaporkan dirinya.

“Masyarakat yang pernah kontak dengan dia belakangan ini sekitar bulan Maret Kemrin lebih sadar diri lagi untuk antisipasi diri, seperti lapor dan cek kesehatan ke layanan kesehatan, isolasi diri sendiri, pola makan sehat, dan sering jemur diri di matahari. Agar itu semua dilakukan untuk pencegahan penyebaran coronavirus dan memutus mata rantai coronavirus,” sebut Husna.

Sementara, Nelly Oktaviani Hutapea (29), warga di jalan Aso-aso nomor 29 Kelurahan Pancuran Pinang menekankan masih abainya masyarakat di kota itu terhadap potensi penyebaran virus mematikan itu.

“Kalau menurut saya banyak kurang kasadaran kita, entah karena belum ada PDP di Sibolga sehingga banyak yang mengabaikan. Kalau imbauan pemerintah sudah bagus sekali, selalu mengingatkan kita akan bahaya Covid-19. Intinya perlu kesadaran individu untuk hal ini, sehingga Kota Sibolga bebas dari wabah Corona ini,” pungkasnya.

Laporan: Mirwan Tanjung

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed