oleh

Covid-19 ‘Pukul’ Sektor Konstruksi, ini Tuntutan GAPENSI Kepada Pemerintah

Rakyatsumut.com, Pandemi covid-19 yang merebak di seluruh penjuru dunia memberikan dampak yang signifikan terhadap stabilitas ekonomi, menyebabkan terjadinya pelambatan bahkan resesi ekonomi dunia.

Dinamika ekonomi global tersebut, secara langsung berimplikasi terhadap stabilitas ekonomi nasional. Terlebih dengan semakin masifnya jumlah suspect serta penyebaran covid-19 ke wilayah Indonesia.

Keterangan tertulis Ketua Umum Gapensi H Iskandar Z Hartawi diterima Rakyatsumut.com, Jumat (3/4/2020) menjelaskan, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) yang merupakan leading sector  penanggulangan dan penanganan covid-19, tercatat 1.528 positif, 136 meninggal dan 81 sembuh, Selasa (31/03/2020).

“Meningkatnya eskalasi penderita serta area penyebaran covid-19 ini menimbulkan kerentanan tidak saja di sektor ekonomi, tetapi juga terhadap stabilitas sosial-keamanan. Sejak awal Maret hingga saat ini, terjadi pelambatan ekonomi nasional, pekerja informal paling terdampak, apa lagi dengan pemberlakuan social distancing, Work from home (WFH) dan stay at home, mobilitas atau lalu lintas perdagangan dan jasa menurun drastic,” kata Iskandar.

Berdasarkan eskalasi dampak covid-19 yang memukul hampir semua lini sehingga rawan menimbulkan gejolak ekonomi dan sosial. Kebijakan pemerintah yang menetapkan pandemi covid-19 sebagai bencana nasional patut diapresiasi, sehingga sumber daya pemerintah dibantu oleh seluruh komponen masyarakat bisa fokus menanggulangi wabah covid-19.

Fokus dan keseriusan pemerintah dalam penanggulangan bencana nasional ini, semakin terlihat dan ditegaskan dengan terbitnya Keppres No.11 Tahun 2020 Tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19, Perpu No.1 Tahun 2020 Tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19 dan/atau Dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan, PP No.21 Tahun 2020 Tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Dengan terbitnya Keppres, Perpu dan PP secara bersamaan, mengambarkan situasi yang sangat mendesak, darurat dan perlunya gerak cepat untuk menormalisasi atau mengendalikan keadaan.

“Dalam konteks di atas, BPP Gapensi sebagai asosiasi yang menaungi pelaku jasa konstruksi di Indonesia dengan jumlah anggota 30.763 BUJK, 82% diantaranya bergerak di skala UMKM akan merasakan dampak paling signifikan. Maknanya, implikasinya pun akan melebar pada daya beli dan perputaran ekonomi dilingkungan masyarakat menengah ke bawah, efek lanjutan adalah meningkatkan angka kemiskinan,” tulis Iskandar.

Sektor jasa konstruksi sebagai bagian dari pelaku ekonomi, merasakan dampak yang sangat besar atas wabah covid-19. Elemen pelaksanaan konstruksi seperti; material, tukang, peralatan, transportasi, waktu dan mobilitas terkait langsung dengan wabah covid-19, sehingga dapat menimbulkan ketidakpastian.

Fakta di lapangan, proyek pengerjaan bangunan di suatu kabupaten menjadi terbengkalai karena material dan tukangnya diangkut dari kabupaten tetangga, terganggu mobilitas transportasinya karena pemberlakuan kebijakan karantina wilayah yang diberlakukan pimpinan di daerah tersebut. Terlebih, jika materialnya harus didatangkan dari propinsi lain.

“Belum lagi, variabel eskalasi harga dan bahan baku yang melambung tinggi karena kenaikan kurs dollar dan harus diimpor,” ungkap Iskandar.

Berdasarkan pembacaan lapangan dan data BPP Gapensi, kondisi kedaruratan yang ditimbulkan oleh covid-19 berimplikasi pada ketidakmungkinan proses pengerjaan konstruksi bisa berjalan normal, efektif, berkualitas dan tepat waktu. BPP Gapensi menyimpulkan bahwa realitas saat ini sudah masuk kategori force majeure, senada dengan maksud dalam Keppres No.11 Tahun 2020 Tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat, pada klausul Menimbang, poin (a), bahwa penyebaran Covid-19 yang bersifat luar biasa dengan ditandai jumlah kasus dan/atau jumlah kematian telah meningkat dan meluas lintas wilayah dan lintas Negara dan berdampak pada aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, serta kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Dengan demikian, klausul yang termaktub pada Perpres No.16 Tahun 2018 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Bagian Keenam; Keadaan Kahar, Pasal 55 ayat 1,2,3 dan 4 dapat menjadi pedoman atau acuan bagi pelaku jasa konstruksi. Olehnya itu, BPP Gapensi menyampaikan pandangan dan masukan kepada pemerintah;

Pada Pekerjaan yang sedang berjalan, pemerintah dipandang perlu mengeluarkan payung hukum untuk, memberikan perpanjangan waktu penyelesaian pekerjaan hingga melampaui tahun anggaran, termasuk meniadakan denda keterlambatan pekerjaan dampak pandemi.

“Eskalasi Harga, penyesuaian harga satuan item pekerjaan dengan memberikan addendum biaya tambah atau dengan rescoping atau pengurangan item pekerjaan,” sebut Iskandar.

Memberikan biaya tambah kepada penyedia jasa untuk melakukan pengadaan APD dan melakukan SOP sesuai dengan protokol pencegahan covid-19 di setiap proyek sesuai pedoman dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dimana proyek terselenggara.

Keberlanjutan proses pengadaan barang dan jasa konstruksi:

Meminta pemerintah untuk mengevaluasi kembali Surat Edaran Menteri Keuangan (SE No.S-247/MK.07/2020 tentang penundaan pengadaan barang dan jasa yang bersumber dari DAK fisik. Dengan tetap melanjutkan proyek nilai di bawah 10 M yang peruntukannya untuk skala kecil dan atau UMKM.

Mengusulkan untuk belanja modal fisik yang direalokasi hanya untuk proyek multi years dimana azas manfaat dari kegiatan tersebut belum bisa sesuai target atau berfungsi tahun ini.

Kebijakan sektor keuangan di bidang jasa konstruksi, pemerintah perlu melakukan penurunan suku bunga modal kerja konstruksi diiringi dengan restrukturisasi kredit dan penundaan bayar pokok sesuai dengan skala usaha. Point C.1 berlaku untuk angsuran leasing alat berat konstruksi.

Demikian pandangan dan masukan dari BPP Gapensi kepada pemerintah dalam menyikapi wabah covid-19 dan dampaknya terhadap sektor jasa konstruksi. Semoga menjadi perhatian dan memantik untuk membangun sinergi dalam penanggulangan covid-19 serta mendorong bangsa ini untuk terus bergerak maju.

Laporan: Rommy

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed