oleh

Kisah Pilu Penyandang Disabilitas Ditengah Wabah Corona

Rakyatsumut.com, Rencana konfrensi pers Persatuan Tuna Netra (Pertuni) Sumatera Utara akhirnya dibatalkan, Senin (30/3/2020).

Tiada pasal lain, virus corona penyebabnya. Konfrensi pers, berarti mengundang keramaian.

Lantas, Ketua DPD Pertuni Khairul Batubara akhirnya dihubungi melalui telepon seluler. Khairul berkisah panjang soal ancaman di depan mata yang akan dihadapi penyandang disabilitas seperti dirinya karena dampak pandemi corona.

“Sudah bingung bang, ini kontrakan kami juga sudah mau habis akhir bulan ini,” katanya lirih.

Padahal Khairul harus menghidupi dua anaknya dan istrinya yang juga disabilitas netra. Ekonomi keluarganya ambruk. Panti pijat yang ia kelola terpaksa harus ia tutup sejak 10 maret.

Pernah suatu kali pasiennya datang saat panti pijatnya tutup. Ia diimingi uang Rp500 ribu. Khairut tetap menolak karena takut terkena virus mematikan itu.

Kairul menuturkan, kondisi ini tidak saja dihadapi dirinya dan keluarganya. Sebanyak 300 kepala keluarga anggota Pertuni menghadapi ancaman serupa.

Dia menyebut, profesi anggota Pertuni memang beragam. Mulai dari tukang pijat, penjual kerupuk hingga pengamen di jalanan. Dan semua mengeluhkan kondisi ini, meski beberapa anggota lain masih menekuni jualan kerupuk yang terpaksa lebih sering menelan kerugian.

“Udah gak ada lagi yang beli,” ucap Khairul kian lirih.

Kondisi tak berbeda juga dialami anggota Pertuni yang tiap hari bernyanyi di panggung-panggung pesta pernikahan. Pesta sudah tak digelar.

“Biasanya pulang bawa 75 ribu rupiah.Ini kan sudah gak ada pesta nikahan lagi. Jadi mau bagaimana kami ini,” kata Kairul.

Ancaman virus corona terus memaksa Khairul dan anggotanya bertahan di rumah. Itu juga anjuran pemerintah, agar wabah ini bisa dikendalikan.

Tapi kondisi para penyandang disabilitas, sebaliknya, kian tak terkendali. Sejumlah anggota Pertuni yang menetap di rumah kontrakan dan bayar bulanan, kini sudah menetap di sekretariat Pertuni di kawasan Jalan Ayahanda, Medan. Kontrakan tak lagi terbayar.

Sementara selama di sekretariat, para anggota Pertuni, termasuk Khairul, mengumpulkan dana untuk membeli kebutuhan. Di tempat itu, kini ada sebanyak 32 anggota Pertuni yang menetap.

“Tapi yah sederhana saja makannya. Kadang pakai sayur saja, kadang Cuma pakai ikan asin, kadang pakai kecap juga,” ujar Khairul.

Khairul menerangkan, sekretariat Pertuni terdiri dari 8 ruangan. Disana mereka berbagi tempat, meski tetap menjaga jarak satu dengan yang lain. Semua anggota Pertuni di sekretariat masih sehat dan tetap beraktifitas.

“Belum ada yang sakit. Kami selalu menjaga jarak,” katanya.

Dia berharap kondisi ini mendapat respon dari pemerintah. Setidaknya dapat bantuan pangan, agar mereka tidak kelaparan. Khairul pun berencana akan menyurati Kemensos terkait kondisi ini.

“Kami berdoa wabah corona ini cepat berakhir. Kami juga berdoa pemerintah bisa membuka hatinya untuk kami kaum disabilitas yang saat ini tidak punya penghasilan untuk bertahan hidup,” tutup Khairul.

Laporan: Damai

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed