oleh

Tari Konfigurasi di MTQ XI Paluta Menuai Kritik

Rakyatsumut.com, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XI tahun 2020 tingkat Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), telah usai. Tentu banyak pengalaman, maupun kesan yang dijadikan pelajaran para kalifah.
Panggung megah di lapangan Kantor Camat Simangambat, menjadi saksi suksesnya pelaksanaan MTQ itu. Diikuti sebanyak 12 Kecamatan se-Kabupaten Paluta, jumlah peserta sebanyak 497 dengan rincian peserta putra 217 orang dan putri 222 orang, official dan pelatih berjumlah 58 orang.
Kemeriahan MTQ XI disaksikan masyarakat Paluta dan juga pejabat Pemda Paluta, mulai dari pimpinan OPD, Camat se Paluta, Kemenag, DPRD Paluta, Pimpinan Pondok Pesantren, MUI Paluta,  TNI/Polri, OKP, Pimpinan Perusahaan, PKK, Darma Wanita, tokoh masyarakat, tokoh agama dan awak media.
Sedangkan acara tersebut dibuka Bupati Paluta Andar Amin Harahap, Kamis (12/3/2020) dan ditutup Sabtu (14/3/2020).
Sayangnya usai perhelatan MTQ, ada yang dinilai janggal. Yakni penampilan tari konfigurasi dari sejumlah siswa SMP dan SD saat pembukaan dan penutupan MTQ.
Penampilan tari itu dinilai tidak memahami makna pelaksanaan MTQ sebagai sarana yang dapat membawa manfaat dan maslahat dalam upaya mengaktualisasikan ajaran Al-Qur’an.
Kejanggalan itu diungkap anggota DPRD Paluta, Muhammad Amin Siregar. Kepada wartawan Selasa (17/3/2020), Amin menilai penampilan tari konfigurasi itu, bertentangan dengan pemahaman dan penguasaan ilmu keagamaan dalam penghayatan al-Qur’an.
“Musabaqah Tilawatil Qur’an yang dikenal dengan singkatan MTQ adalah perlombaan seni baca, hafalan, tafsir, syariah, seni kaligrafi, penulisan karya tulis ilmiah al- Qur’an. Kenapa harus disambut dengan tarian seperti itu, lalu apa yang diharapkan output-nya dari penampilan tari konfigurasi tersebut? musik dan lirik lagunya pun tidak mencerminkan ke Islaman dalam penghayatan al-Quran,” kata Amin.
Menurut dia, tujuan MTQ untuk memelihara, mengembangkan atau meningkatkan pengetahuan, serta  penyebarluasan al-Qur’an dan menjadikan al-Qur’an sebagai spirit pembangunan nasional berdasarkan pendekatan agama.
“Inikan acara keagamaan, lalu manfaat apa yang diambil dari penampilan tari konfigurasi itu? lebih bagus ditampilkan tari budaya khas Paluta dan juga drama yang mengajarkan ke islaman, kan lebih bermanfaat kepada masyarakat,” ujar Amin.
Dia berpesan, kedepan penampilan tari agar memilih yang bernuansa Islami  sesuai tujuan dan makna MTQ itu sendiri.
“Dan benar-benar mengajarkan masyarakat untuk menyebarluaskan al-Quran,” pungkas Amin.
Ustaz Ahmad Roisuddin Ritonga, kepala Aliyah Darussalam Parmeraan Kecamatan Dolok menyatakan kritik serupa. Menurut dia, penampilan tarian konfigurasi pada acara penutupan tidak efektif ditampilkan pada acara MTQ, karena tidak bernuansa pada ke islaman.
“Dalam acara MTQ tentu penampilan tari putra dan putri harus dipisahkan tanpa digabungkan seperti yang ditampilkan di acara penutupan MTQ kemarin, kan masih banyak tari-tari dan lagu islami yang layak ditampilkan untuk acara keagamaan,” imbuhnya.
Ia berharap, penampilan tari dalam acara MTQ berikutnya harus di mubah dengan tari-tari yang berbau islami dan lirik lagunya yang Islami pula.
“Agar lebih bermanfaat bagi masyarakat,” harap Roisuddin.
Laporan: Maraudin Siregar
loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed